Sinyal Menteri Bahlil, Siap-siap Harga Pertamax Naik

Adi Subchan - 17 April 2026

FOTO: Bloomberg/Ilustrasi
FOTO: Bloomberg/Ilustrasi

Menteri ESDM Bahlil memberi sinyal kenaikan BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Pemerintah segera lakukan penyesuaian harga.

Aktual Tangerang – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberi sinyal penyesuaian harga BBM nonsubsidi, seperti Petamax, dalam waktu dekat.

Kebijakan itu menyusul pembahasan pemerintah dengan berbagai pemangku kepentingan yang hampir rampung.

“Penyesuaian tinggal menunggu waktu pelaksanaan,” ujar Bahlil di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Ia menyebut hasil rapat dengan Pertamina dan badan usaha swasta sudah mendekati final. “Feeling saya, pembahasan sudah hampir selesai,” kata Bahlil.

Menurutnya, penyesuaian harga mengikuti regulasi yang berlaku di sektor energi.

Aturan tersebut mengacu pada Kepmen ESDM Nomor 245 Tahun 2022. Regulasi itu merupakan perubahan atas Kepmen ESDM Nomor 62 Tahun 2020.

Kebijakan juga merujuk pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022. Aturan tersebut mengatur formula harga dasar BBM nonsubsidi.

Formula mencakup harga jual bensin dan solar melalui SPBU. “BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme harga pasar,” jelas Bahlil.

Baca Juga :  Menteri AHY Janji Lengkapi Fasilitas Nelayan Tangerang

Sejak awal April 2026, harga BBM nonsubsidi masih ditahan pemerintah. Penahanan dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha swasta. Beberapa di antaranya adalah Shell, Vivo, dan BP. Kebijakan ini diambil meski harga minyak dunia mengalami kenaikan.

Lonjakan dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Harga minyak Brent dan WTI kini berada di kisaran USD90-100 per barel. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata Januari 2026. Saat itu, harga Brent tercatat ssekitarUSD64 per barel.

Penahanan harga sebelumnya diumumkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Ia memastikan harga BBM tidak naik, baik subsidi maupun nonsubsidi.

“Kebijakan diambil setelah koordinasi lintas kementerian,” ujarnya.

Keputusan tersebut juga mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah memastikan pasokan BBM nasional tetap aman. Masyarakat diminta tidak panik terhadap isu kenaikan harga.

Namun, kebijakan penahanan harga memicu selisih biaya. Selisih terjadi antara harga jual dan harga beli minyak mentah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Pertamina menanggung selisih tersebut.

“Selisih harga ditanggung sementara oleh Pertamina,” katanya.

Harga BBM Subsidi Tidak Naik

Meski begitu, lanjut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, harga BBM subsidi tetap stabil dalam jangka panjang.

Bahlil menegaskan pemerintah fokus menjaga stabilitas harga energi nasional. Langkah ini didukung kondisi pasokan energi yang relatif aman.

Harga minyak dunia juga dinilai masih dalam rentang terkendali. “Kami sepakat harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir tahun,” ujar Bahlil.

Ia berharap kebijakan tersebut dapat berlangsung lebih lama. “Insya Allah bisa dipertahankan dalam jangka panjang,” katanya.

Menurutnya, stabilitas harga penting menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut juga mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Namun, pemerintah tetap mencermati harga minyak mentah dunia. Indikator utama yang digunakan adalah Indonesian Crude Price (ICP). Saat ini, harga rata-rata ICP dinilai masih aman bagi APBN.

Baca Juga :  Viral! Pulau Umang Dijual Rp65 Miliar, Disparbud Pandeglang Beri Penjelasan

Bahlil menyebut konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi domestik sekitar 600 ribu barel per hari.

Kondisi ini membuat kebutuhan impor energi masih cukup besar. “Pasokan crude hingga Desember relatif aman,” jelasnya.

Untuk menjaga pasokan, pemerintah memperluas kerja sama internasional. Salah satunya melalui komunikasi intensif dengan Rusia.

Kerja sama mencakup pengadaan minyak mentah dan pembangunan infrastruktur.

Pembahasan pasokan minyak dari Rusia disebut hampir mencapai finalisasi. “Untuk crude, saya pikir sudah hampir final,” kata Bahlil.

Ia menegaskan prinsip utama adalah memperoleh harga terbaik. Harga transaksi harus tetap kompetitif di pasar global.

Selain itu, pemerintah juga menata izin usaha pertambangan di kawasan hutan. Proses penataan izin tersebut telah diselesaikan sesuai target waktu.

Tahap berikutnya akan masuk pada pelaksanaan teknis di lapangan.

Sementara itu, Pertamina memastikan kesiapan pengolahan minyak impor. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth Dumatubun, menyatakan kilang siap mengolah minyak Rusia.

“Kilang Pertamina mampu mengolah crude dari Rusia menjadi produk,” ujarnya.

Ia menegaskan Pertamina akan mengikuti kebijakan pemerintah terkait impor energi. “Pertamina siap mendukung penyediaan dan distribusi energi nasional,” kata Roberth.

Di sisi lain, Bahlil mengungkap hasil pertemuan dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut komunikasi tingkat kepala negara.

Diskusi membahas penguatan ketahanan energi di tengah dinamika global. “Hasilnya cukup baik dan menambah cadangan energi nasional,” ujar Bahlil.

Selain minyak mentah, Indonesia juga berpotensi memperoleh pasokan LPG. Rusia menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan energi Indonesia.

Dukungan mencakup minyak, gas, hingga fasilitas penyimpanan energi.

Sejumlah perusahaan energi Rusia turut terlibat dalam pembahasan tersebut. Di antaranya Rosneft, Ruschem, Zarubezhneft, dan Lukoil.

“Kami ingin kerja sama ini memperkuat ketahanan energi nasional,” tegas Bahlil.

Ia menjelaskan skema kerja sama dilakukan melalui pendekatan G2G dan B2B. Model ini membuka peluang investasi lebih luas di sektor energi.

Kerja sama juga berpotensi mencakup penyimpanan crude dan kontrak jangka panjang. Selain itu, penjajakan energi nuklir dan sektor mineral turut dibahas.

Bahlil menilai Rusia sebagai mitra strategis dengan kapasitas produksi besar. “Kami optimistis kerja sama ini memberi hasil positif,” ujarnya. ***

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini