Warga Cipayung Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos

Adi Subchan - 10 January 2026

Warga RW 12 Cipayung, Tangsel, mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos padat dan cair melalui TPS 3R. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ilustrasi)
Warga RW 12 Cipayung, Tangsel, mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos padat dan cair melalui TPS 3R. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ilustrasi)

Warga RW 12 Cipayung, Tangsel, mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos padat dan cair melalui TPS 3R.

Aktual Tangerang – Sampah masih menjadi persoalan serius di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Penumpukan sampah kerap ditemukan di berbagai titik wilayah. Sebagian warga masih membuang sampah sembarangan di pinggir jalan.

Namun, sampah tidak selalu menjadi masalah lingkungan. Jika dikelola dengan tepat, sampah memiliki nilai dan manfaat ekonomi.

Warga RW 12 Kelurahan Cipayung mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Pengelolaan dilakukan secara sederhana melalui TPS3R setempat.

Sampah rumah tangga yang sebelumnya menumpuk kini diolah menjadi pupuk padat dan cair. Hasilnya bermanfaat bagi lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.

Ketua RW 12 Cipayung Wawan Ridwan menjelaskan proses pembuatan pupuk kompos tersebut.

Tahap pertama adalah memilah sampah organik. Sampah yang digunakan berupa sisa sayur, kulit buah, nasi, dan kulit telur.

“Idealnya organik mentah dan matang dipisah, tetapi kami satukan agar warga lebih mudah,” kata Wawan.

Baca Juga :  Tangsel Darurat Sampah, Setiap RW Wajib Kelola TPS3R
Ketua RW 12 Cipayung, Tangsel, Wawan Ridwan menjelaskan proses pembuatan pupuk kompos tersebut. (Foto: Tribun Tangerang)

Lalu, tahap kedua, sampah dimasukkan ke dalam tong komposter. Tong berfungsi menjaga fermentasi, mengurangi bau, dan menghasilkan pupuk cair.

“Dengan tong komposter, kami mendapat pupuk padat dan pupuk cair sekaligus,” ujar Wawan.

Tahap berikutnya adalah penambahan bahan pengurai. Bahan yang digunakan berupa molase atau gula merah cair.

“Molase penting agar fermentasi cepat dan sampah tidak menimbulkan bau,” jelasnya.

Setelah itu, sampah difermentasi di dalam tong. Proses fermentasi minimal berlangsung selama tiga bulan.

“Kualitas terbaik biasanya diperoleh setelah enam bulan fermentasi,” kata Wawan.

Selama fermentasi, tong akan menghasilkan air lindi. Air lindi merupakan pupuk cair hasil penguraian sampah.

“Pupuk cair bisa langsung digunakan atau disimpan agar kualitasnya semakin baik,” ujarnya.

Baca Juga :  Buang Sampah Sembarangan di Tangsel Dikenai Hukuman Pidana

Sementara itu, pupuk padat ditandai dengan warna hitam dan tidak berbau. Pupuk matang juga tidak panas dan aman digunakan untuk tanaman.

“Kalau sudah hitam dan tidak bau, berarti pupuk sudah siap digunakan,” jelas Wawan.

Pupuk kompos dimanfaatkan sebagai media tanam dan campuran tanah. Hasilnya digunakan untuk kebun dan tanaman hias warga.

Wawan juga membagikan tips pengolahan sampah skala rumah tangga. Ia menyarankan penggunaan maggot untuk menghilangkan bau sampah dapur.

“Kalau di rumah, pakai maggot lebih praktis dan hasilnya tetap jadi pupuk,” katanya.

Alternatif lain menggunakan ember tertutup dan gula merah sebagai pengurai. Kondisi sampah harus dijaga agar tidak terlalu kering atau basah.

Menurut Wawan, pengolahan sampah membuka peluang ekonomi warga.

“Sampah rumah tangga bisa menjadi solusi jika dikelola dengan semangat,” pungkasnya.

Tag Terkait:

2 responses to “Warga Cipayung Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Kompos”

  1. Lilis Sarimanah Avatar
    Lilis Sarimanah

    Bagus , jelas, dapat dipahami paparan /penjelasannya semoga bermanfaat untuk kita semua, aamiin

  2. Wawan Ridwan Avatar
    Wawan Ridwan

    Dalam Hal Ini memang perlu Semangat dan kemauan Yang Kuat Guna menuntaskan problem Sampah ini dan Kita Anggap Ini Sebagai Giat Bakti Yang Mulia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini