Aktual Tangerang – Warga Perumahan Serpong Lagoon, Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, mengeluhkan kualitas air bersih yang mereka bayar mahal setiap bulan.
Di tengah tagihan air sekitar Rp900.000 per bulan, warga menghadapi persoalan kualitas air yang dilaporkan terkontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli).
Seorang warga bahkan mengaku anaknya mengalami muntaber hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit selama empat hari.
Fai Faza, penghuni Cluster Flamengo Blok F, mengatakan biaya air menjadi bagian dari tagihan pengelolaan lingkungan yang dibayarkan secara bersamaan.
“Contoh saya di bulan ini bayar Rp1,2 juta dengan detailnya air sekitar Rp900 ribuan. Rp300.000 IPL-nya,” ujar Faza saat ditemui di lokasi instalasi pengolahan air, Setu, Tangsel, Sabtu (17/10/2026).
Faza mengaku telah menghuni rumah seluas 105 meter persegi di kawasan tersebut selama 11 tahun. Selama itu pula, ia merasakan beban biaya air yang menurutnya terus meningkat setiap tahun.
Namun, besarnya biaya yang dikeluarkan warga justru diiringi keluhan terhadap kualitas air yang didistribusikan PT Arfa Putra Soegama selaku pengelola.
Bagi Faza, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut tagihan bulanan. Ia juga harus menghadapi dampak kesehatan yang dialami anaknya.
Anaknya mengalami muntaber hingga harus dirawat di rumah sakit selama empat hari tiga malam. Setelah keluar dari rumah sakit, anaknya masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
“Terutama kita yang sudah keluar biaya sendiri untuk berobat anak-anak. Penyakit muntaber waktu penyelesaian tidak singkat, tapi akan kontrol-kontrol khusus lagi untuk pencernaan anak,” ujar Faza.
Menurut Faza, pemulihan anaknya belum selesai setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Pemeriksaan lanjutan masih diperlukan untuk memastikan kondisi pencernaan anaknya.
Biaya pengobatan tersebut menambah beban keluarga Faza. Di satu sisi, mereka tetap harus membayar layanan air setiap bulan. Di sisi lain, muncul kekhawatiran terhadap kualitas air yang digunakan di rumah.
Saat menceritakan pengalamannya, Faza tampak kesulitan menahan emosi. Suaranya terdengar parau sebelum air matanya menetes. Sejumlah warga di lokasi berusaha menenangkannya.
Kekecewaan Faza juga tertuju pada respons pengelola jaringan air setelah warga mengalami keluhan kesehatan.
Menurut dia, pengelola belum menyampaikan permintaan maaf kepada warga atas persoalan tersebut.
“Enggak ada kata maaf dari mereka,” ucap Faza.
Keluhan warga Serpong Lagoon itu memunculkan pertanyaan mengenai kualitas layanan air yang mereka bayar setiap bulan. Terlebih, air merupakan kebutuhan dasar untuk berbagai aktivitas rumah tangga sehari-hari. (*)






Leave a Reply