Aktual Tangerang – Uang bertanda tangan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ramai diperbincangkan kolektor. Namun, tanda tangan tersebut belum otomatis membuat harga uang menjadi tinggi.
Menurut kolektor uang atau numismatik Abdul Sobri (52), nilai koleksi ditentukan berbagai faktor. Nama atau tanda tangan tertentu bukan satu-satunya penentu harga.
Sobri yang mengoleksi uang sejak SMP menjelaskan beberapa aspek yang diperhatikan kolektor. Faktor tersebut meliputi jumlah cetakan, tahun penerbitan, dan negara penerbit.
“Pertama cetaknya. Banyak atau enggak itu cetak uangnya. Kedua, tahunnya. Ketiga ya baru negaranya yang ngeluarin, itu negara mana yang ngeluarinnya,” ujar Sobri, Sabtu (3/10/2026).
Jumlah Cetakan Menentukan Nilai
Menurut Sobri, jumlah cetakan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan nilai koleksi. Uang yang dicetak terbatas cenderung lebih dicari kolektor.
Sebaliknya, uang yang dicetak dalam jumlah besar belum tentu memiliki nilai koleksi tinggi.
“Yang cetaknya sedikit, itu mahal. Yang cetaknya banyak masih murah,” ujarnya.
Sobri kemudian menunjukkan sejumlah koleksinya dengan nominal dan nilai koleksi berbeda. Ia mencontohkan uang Zimbabwe bernominal 100 triliun.
Meski memiliki angka nominal sangat besar, uang tersebut tidak otomatis bernilai tinggi. Sobri menyebut harga uang tersebut masih relatif biasa.
“Ini enggak mahal uangnya,” ujarnya.
Menurut dia, nominal besar tidak selalu berbanding lurus dengan harga koleksi. Uang tersebut justru dibeli sebagai bagian dari koleksi.
Uang Lama Belum Tentu Mahal
Faktor usia juga tidak otomatis membuat sebuah uang memiliki harga tinggi. Sobri mencontohkan uang Indonesia keluaran 1971.
Menurut dia, uang tersebut masih bisa diperoleh dengan harga di bawah Rp50 ribu. Kondisi tersebut dipengaruhi jumlah cetakannya yang dahulu cukup banyak.
“Karena kan cetaknya banyak. Cetaknya ribuan keping cetaknya, enggak dikit, banyak cetaknya,” ujar Sobri.
Sebaliknya, uang dengan jumlah terbatas dan sulit ditemukan bisa memiliki nilai lebih tinggi. Kesalahan cetak juga menjadi karakteristik yang menarik bagi kolektor.
Sobri menunjukkan sejumlah uang dengan kesalahan cetak atau kelebihan kertas. Menurut dia, kondisi tersebut justru membuat uang menjadi buruan kolektor.
“Yang begitu yang mahal,” ujarnya.
Uang Uncut Bisa Bernilai Lebih Tinggi
Dalam koleksinya, Sobri juga memiliki uang yang belum terpotong atau disebut uncut. Bentuk tidak lazim tersebut dapat meningkatkan nilai koleksi.
“Nilai nominalnya Rp5.000 harga jualnya bisa jadi Rp100.000, Rp200.000, kelipatannya bisa bisa mahal,” katanya.
Selain jumlah cetakan dan kelangkaan, kondisi fisik uang turut memengaruhi nilai. Uang dengan kondisi baik memiliki nilai berbeda dibandingkan uang yang sudah rusak. “Iya, pasti berpengaruh,” ujarnya.
Namun, Sobri menegaskan tidak semua uang koleksi memiliki harga baku. Harga uang langka dapat terbentuk berdasarkan kesepakatan pembeli dan penjual.
“Enggak ada harga baku,” katanya. “Dia berapa mau dijual, kita tawar,” sambungnya.
Sobri mengaku tidak membeli uang koleksi untuk dijual kembali. Ia memilih menyimpan uang yang telah dibelinya.
“Kalau saya beli untuk disimpan. Beli, simpan aja,” ujarnya.
Karena itu, nilai uang bertanda tangan Purbaya tidak cukup dinilai berdasarkan nama atau tanda tangan. Kolektor perlu melihat karakteristik uang secara keseluruhan.
Jumlah cetakan, tahun penerbitan, kelangkaan, kondisi, serta keunikan menjadi faktor yang lebih menentukan. Karakteristik khusus juga dapat memengaruhi daya tarik sebuah uang.
Dengan demikian, tanda tangan Purbaya belum otomatis membuat uang tersebut bernilai tinggi. Nilainya tetap bergantung pada karakteristik dan tingkat kelangkaannya.
Bagi kolektor seperti Sobri, daya tarik utama sebuah uang terletak pada kelangkaan. Faktor tersebut membuat sebuah uang sulit ditemukan dan menarik untuk dikoleksi. (*)










Leave a Reply