Koperasi Pemulung Berdaya di Serpong mampu menghasilkan omzet Rp1,2 miliar per bulan melalui pengolahan sampah botol plastik menjadi plastik cacah dan bal plastik.
Aktual Tangerang – Koperasi Pemulung Berdaya atau RBU di Serpong meraup omset Rp1,2 miliar setiap bulannya. Mereka daur ulang sampah botol plastik menjadi produk bernilai tinggi.
Sekretaris Koperasi Pemulung Berdaya, Juleha, menyebut pihaknya menerima enam ton botol plastik per hari. Pasokan datang dari pengepul, bank sampah, mitra perusahaan, pemulung, dan warung sekitar.
“Kami bekerja sama dengan banyak pihak untuk pasokan sampah plastik,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Katanya, pembelian dilakukan melalui penjemputan atau pengiriman mandiri.
Jika dilakukan penjemputan, RBU menetapkan batas minimal agar biaya operasional terkendali. Pickup minimal harus membawa 200 kilogram, sedangkan truk 400 hingga 500 kilogram.
“Untuk pengiriman mandiri, koperasi menerima semua berat meski hanya satu kilogram,” kata Juleha.

Harga beli plastik saat ini sebesar Rp5.000 per kilogram. Harga tersebut turun dari Juli 2025 yang mencapai Rp8.000 per kilogram. Harga beli dihitung dari harga jual dikurangi margin tetap Rp3.000 per kilogram.
“Kalau harga jual Rp8.000, kami hanya bisa membeli di Rp5.000,” jelasnya.
Harga Plastik Melonjak
Harga plastik sempat melonjak pada 2023 hingga pertengahan 2025. Lonjakan itu terjadi karena banyak lembaga internasional membeli sampah plastik. Pembelian dilakukan melalui program kredit plastik yang memberi banyak insentif.
Koperasi sempat kesulitan pasokan akibat persaingan harga. Mereka bahkan mencari material hingga Sukabumi dan Cianjur, Jawa Barat.
Dari enam ton sampah harian, lima ton diolah menjadi plastik cacah. Sisa material di-pres menjadi bal plastik siap jual.
Produk daur ulang dikirim ke pabrik pengolahan menjadi benang polimer dan geotekstil. Sebagian hasil juga digunakan untuk kebutuhan industri lainnya.
Penjualan dilakukan setiap dua hari sekali ke berbagai pabrik. Sebagian dikirim ke wilayah lokal dan sebagian ke luar daerah, termasuk Surabaya.
Dengan omzet Rp1,2 miliar per bulan, pendapatan tahunan bisa melampaui Rp14 miliar. Namun angka itu masih berupa omzet kotor sebelum biaya operasional.
“Bisnis ini menunjukkan bahwa sampah plastik dapat menjadi sumber ekonomi menjanjikan. Pengelolaan yang tepat mampu mengubah limbah menjadi peluang usaha besar,” pungkas Juleha.











Leave a Reply