Harga LPG nonsubsidi 12 kg di Tangerang Selatan naik jadi Rp247.500. Warga mengeluh, namun tetap membeli karena kebutuhan utama.
Aktual Tangerang – Harga gas LPG nonsubsidi 12 kilogram mengalami kenaikan di Tangerang Selatan (Tangsel). Kenaikan mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Pantauan di minimarket menunjukkan harga mencapai Rp247.500 per tabung. Sebelumnya, harga gas berada di kisaran Rp209.000 per tabung.
Kenaikan ini memicu keresahan warga pengguna gas rumah tangga.
Andi Firmansyah, kasir minimarket di Ciputat, membenarkan kenaikan tersebut.
“Iya, sekarang harganya Rp247.500, sebelumnya Rp209.000,” ujar Andi, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan kenaikan sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir. “Bukan baru hari ini, sudah beberapa hari lalu naik,” katanya.
Andi mengaku tidak mengetahui kondisi harga di tingkat agen. “Kami hanya mengikuti harga dari pusat,” jelasnya.
Kenaikan harga memicu keluhan dari sebagian konsumen. “Pasti ada yang mengeluh karena kenaikannya cepat,” ujarnya.
Namun, permintaan gas tidak mengalami penurunan signifikan. Konsumen tetap membeli karena gas menjadi kebutuhan utama.
“Walau mengeluh, mereka tetap membeli,” kata Andi.
Ia menilai gas elpiji sulit digantikan untuk kebutuhan rumah tangga. “Kebutuhan harian, mau tidak mau tetap beli,” ujarnya.
Di sisi lain, kenaikan harga juga dirasakan ibu rumah tangga. Salah satunya Dwike Nuraini, warga Pondok Aren, Tangsel.
Ia mengaku kenaikan harga tetap berdampak pada pengeluaran. “Walau pemakaian hemat, tetap terasa saat harga naik,” ujarnya.
Dwike menyebut kebutuhan rumah tangga sering datang bersamaan. “Biasanya berbarengan dengan token listrik habis,” katanya.
Ia mengatakan gas 12 kilogram bisa digunakan hingga tiga bulan. “Pemakaiannya cukup lama, bisa sampai tiga bulan,” ujarnya.
Durasi tersebut karena penggunaan tidak berlebihan. “Tidak dipakai lama setiap hari,” jelasnya.
Namun, kenaikan harga mendorong perubahan pola konsumsi. Dwike mulai mencari alternatif untuk menghemat pengeluaran.
“Kadang memilih beli lauk matang jika terasa boros,” katanya.
Ia juga menggabungkan aktivitas memasak agar efisien. “Masak digabung supaya tidak sering pakai kompor,” ujarnya.
Dwike berharap ada solusi untuk menekan harga energi. “Semoga ada alternatif dan harga tidak ikut naik,” katanya.
Ia menilai kondisi ekonomi menuntut pengelolaan keuangan lebih ketat.
“Kalau bisa harga justru turun, karena kebutuhan makin banyak,” pungkasnya. ***










Leave a Reply