Aktual Tangerang – Dua siswa SMPN 34 Kota Tangerang meninggal dunia setelah sepeda motor yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan saat dikejar sekelompok pelajar bersenjata tajam. Peristiwa tragis itu terjadi di Jalan Sutera Utama, Pondok Jagung Timur, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan.
Kedua korban berinisial A (14) dan W (15) meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara itu, rekan mereka berinisial D berhasil selamat, tetapi mengalami luka fisik dan trauma psikologis.
Guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN 34 Kota Tangerang, Pradana Esa, mengungkapkan kronologi kejadian berdasarkan keterangan korban selamat dan rekaman kamera pengawas atau CCTV.
Menurutnya, ketiga siswa tersebut baru selesai menonton pertandingan futsal antara SMPN 34 Kota Tangerang dan SMP Al-Muqorrobin. Pertandingan itu berlangsung di wilayah Tangerang Selatan.
“Kronologi yang sudah terkonfirmasi dan terbukti di CCTV, jadi anak-anak saat itu baru selesai menonton latihan pertandingan futsal antara SMPN 34 Kota Tangerang dengan SMP Al-Muqorrobin di wilayah sekitaran Kota Tangerang Selatan,” ujar Esa, Selasa (13/10/2026).
Korban Berpisah dari Rombongan
Pradana menjelaskan, puluhan siswa SMPN 34 Kota Tangerang turut menonton pertandingan futsal tersebut. Mereka datang untuk memberikan dukungan dan semangat kepada rekan-rekannya.
Setelah pertandingan selesai, para siswa tidak langsung pulang. Mereka menunggu rekan yang bertanding untuk beristirahat dan berganti pakaian olahraga.
Setelah seluruh kegiatan selesai, para siswa kemudian pulang secara beriringan menggunakan sepeda motor. A, W, dan D berboncengan tiga dalam satu kendaraan.
Di tengah perjalanan, ketiganya memutuskan berpisah dari rombongan. Mereka hendak mengisi bensin di sebuah SPBU di kawasan Alam Sutera.
Namun, keputusan tersebut justru membuat mereka berhadapan dengan sekelompok pelajar bersenjata tajam. Rombongan yang disebut berasal dari SMK Yadika 4 itu mendadak memotong lajur perjalanan mereka.
Dalam kondisi ketakutan, A, W, dan D berusaha melanjutkan perjalanan untuk menyelamatkan diri. Namun, kelompok tersebut justru mengejar mereka sambil mengacungkan senjata tajam.
Ketiga siswa itu berusaha menjelaskan bahwa mereka bukan bagian dari kelompok yang hendak melakukan tawuran. Mereka bahkan meneriakkan kata “peace” sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V.
Menurut Pradana, D telah berusaha meyakinkan para pelaku agar tidak menyerang mereka.
“Berdasarkan pengakuan D, dirinya sudah bilang ke pelaku bahwa tidak ikut kelompok tawuran bahkan mereka bilang ‘peace, kami anak SMP bukan lagi tawuran’ dan sejumlah penjelasan lainnya kepada para pelaku,” ungkapnya.
Korban Terjatuh saat Berusaha Menyelamatkan Diri
Upaya ketiga siswa untuk meloloskan diri berakhir tragis. Sepeda motor yang mereka tumpangi kehilangan kendali saat melintasi jalan yang sedikit menikung.
Kendaraan tersebut kemudian menabrak tiang listrik dan trotoar. Benturan keras menyebabkan A dan W meninggal dunia di lokasi kejadian.
Sementara itu, D berhasil selamat meski mengalami luka fisik dan trauma berat. Keselamatan D menjadi perhatian pihak sekolah karena ia merupakan saksi yang dapat membantu mengungkap kronologi kejadian.
Pradana mengatakan rekaman CCTV memperlihatkan dugaan tindakan agresif kelompok pengejar terhadap para korban. Rekaman tersebut menjadi salah satu bukti yang menguatkan keterangan mengenai peristiwa itu.
“Dalam rekaman kamera CCTV terlihat jelas bahwa korban dipepet dan sudah ada tindakan mengacungkan bahkan sampai mengayunkan senjata tajam ke arah korban sampai akhirnya berakhir dengan kejadian A dan W meninggal dunia,” paparnya.
Siswa Selamat Mengalami Trauma
Pihak SMPN 34 Kota Tangerang kemudian memberikan pendampingan kepada D untuk membantu pemulihan kondisi psikologisnya.
Pradana menyebut kondisi D masih terguncang setelah mengalami peristiwa tersebut. Sekolah memberikan bimbingan psikologis secara intensif agar kondisi mentalnya berangsur pulih.
“Saat ini D masih sangat trauma, kami dari pihak sekolah terus mendampingi dan memberikan pembimbingan psikologis secara intensif untuk memulihkan kondisi mentalnya,” kata dia.
Kabar meninggalnya A dan W juga mengejutkan lingkungan sekolah. Kepala SMPN 34 Kota Tangerang, Asep Maulana Hidayat, pertama kali menerima informasi tersebut pada Jumat petang sekitar pukul 18.00 WIB.
Informasi awal diterima melalui pesan singkat WhatsApp. Pihak sekolah kemudian segera mengonfirmasi keberadaan para siswa yang sebelumnya menonton pertandingan futsal.
“Sekitar pukul 18.00 WIB, kepastian pahit itu datang, kami mengonfirmasi bahwa almarhum W dan almarhum A memang telah berpulang untuk selama-lamanya,” jelasnya.
Asep mengatakan pihak sekolah bergerak sejak malam kejadian untuk mendampingi keluarga korban. Sekolah juga memfasilitasi doa bersama dan berupaya meredam emosi para siswa agar tidak terjadi aksi anarkis.
Selain memberikan perhatian kepada keluarga korban, sekolah memprioritaskan pemulihan kondisi D. Pendampingan psikologis dan konseling dilakukan oleh Pradana Esa.
Asep juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas siswa setelah jam sekolah. Menurutnya, upaya mencegah kejadian serupa membutuhkan keterlibatan sekolah, orang tua, dan masyarakat.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, kami memohon kerja sama para orang tua untuk memastikan pengawasan ketat terhadap aktivitas anak setelah jam sekolah,” ujar Asep Maulana. (*)








Leave a Reply