Aktivitas Pasar Cipadu Tangerang terus meredup sejak pandemi Covid-19. Pedagang mengeluh omzet turun dan banyak kios tutup.
Aktual Tangerang – Aktivitas jual beli di Pasar Cipadu, Kota Tangerang, terus meredup dari tahun ke tahun. Pasar yang dulu dikenal sebagai sentra kain terbesar kini terlihat semakin lengang.
Pantauan Kamis (23/1/2026) menunjukkan banyak kios di Pasar Cipadu tutup. Hanya beberapa kios yang masih memajang gulungan kain di sepanjang lorong pasar.
Sebagian kios dibiarkan kosong tanpa aktivitas perdagangan. Pedagang yang bertahan terlihat duduk menunggu pembeli yang jarang datang.
Arus pengunjung jauh menurun dibandingkan beberapa tahun lalu. Lorong pasar kini mudah dilalui tanpa harus berdesakan seperti sebelumnya.
Suara tawar-menawar yang khas pasar tradisional nyaris tak terdengar. Pedagang hanya sesekali menawarkan dagangan kepada pengunjung yang melintas.
Penjualan Turun Sejak Pandemi
Kondisi sepi dirasakan pedagang sejak pagi hingga sore hari. Meski pekerjaan tidak berat, menunggu pembeli justru terasa melelahkan.
Mukhlis (50) telah berdagang kain di Pasar Cipadu selama 25 tahun. Ia mengakui kondisi pasar kini sangat berbeda dibandingkan masa awal berjualan.
“Sekarang ini memang sepi sekali. Merosot sejak pandemi Covid-19,” ujar Mukhlis.
Menurutnya, penurunan omzet mulai terasa sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Penjualan terus menurun secara bertahap hingga berdampak signifikan.
“Dulu bisa dapat Rp20 juta sampai Rp30 juta. Sekarang Rp10 juta saja susah,” katanya.
Jumlah kios miliknya menyusut dari empat menjadi dua akibat penurunan penjualan. Pelanggan luar pulau yang dulu rutin datang kini menghilang tanpa kabar.
“Kain saya biasanya untuk seragam pabrik dan rumah sakit, sekarang jarang dipesan,” ujarnya.
Banyak Toko Tutup
Kondisi serupa dirasakan Annisa (50), pedagang pakaian sejak tahun 2000. Ia menyebut kondisi pasar semakin berat pascapandemi.
“Dulu karyawan sembilan orang. Sekarang tinggal tiga,” kata Annisa.
Ia menilai peralihan cara belanja masyarakat ke online memperparah kondisi pasar. Banyak toko terpaksa tutup karena tak sanggup bertahan.
“Sekarang bertahan saja sudah ngos-ngosan,” ujarnya lirih.
Ia mengaku masih bertahan demi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Meski berat, sejumlah pedagang tetap membuka kios setiap hari.
Mereka berharap Pasar Cipadu suatu saat kembali menggeliat. Namun tantangan zaman membuat harapan itu kian berat diperjuangkan. ***











Leave a Reply