Kisah Marbot Masjid Naik Haji

admin - 14 May 2025

marbot_masjid_di_tangerang_hasanuddin_menunaikan_ibadah_haji_2025-A9eb_large

Harunya Kisah Marbot Masjid Naik Haji: Hasanuddin Wujudkan Mimpi di Usia Senja

Pengabdian Puluhan Tahun Berbuah Manis

Tangerang– Kisah inspiratif datang dari Hasanuddin, seorang marbot masjid di kawasan BSD, Tangerang, yang akhirnya dapat menunaikan ibadah haji di tahun 2025. Pria berusia 80 tahun ini membuktikan bahwa kesetiaan dalam mengabdi, kerja kerasnya.

Ditambah doa yang tak henti, bisa mengantarkannya meraih mimpi besar. Marbot masjid naik haji bukan sekadar judul berita, tetapi cerita nyata yang menyentuh hati. “Saya cuma tukang sapu dan bersih-bersih di Masjid Baitul Hikmah. Enggak pernah menyangka bisa naik haji,” ungkap Hasanuddin dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di Masjid Nabawi, Madinah.

Dari Masjid ke Tanah Suci

Selama bertahun-tahun menjadi marbot, Hasanuddin menjalani hidup sederhana. Penghasilannya yang pas-pasan sebagai marbot masjid tak menyurutkan niatnya untuk menyekolahkan anak-anak hingga tuntas. Bahkan, ia nyambi bekerja di biro tiket perjalanan untuk menambah penghasilan. Namun, siapa sangka, justru dari kesederhanaan itulah, harapan besar lahir.

Cerita marbot masjid naik haji ini menjadi simbol bahwa ibadah suci tidak hanya milik orang mampu secara materi, tetapi juga mereka yang sabar, ikhlas, dan tekun dalam pengabdian.

Didampingi Doa dan Keluarga

Hasanuddin kini telah memiliki empat anak, beberapa di antaranya telah bekerja, termasuk sebagai guru. Ia juga telah dikaruniai enam cucu. Dukungan dari keluarga besar menjadi penyemangat utama dalam perjalanannya ke Tanah Suci.

Meski sempat mengalami disorientasi dan lupa ingatan selama dua hari pertama di Arab Saudi, Hasanuddin tetap semangat menjalani ibadah dengan bimbingan tim haji. Kisah marbot masjid naik haji ini pun menjadi perhatian sesama jamaah haji dan petugas MCH.

Baca Juga :  Data Sekolah Rakyat di Tangsel Sepertinya Bermasalah, Harus Dievaluasi

Kehilangan dan Harapan Baru

Perjalanan hidup Hasanuddin tidaklah mudah. Ia pernah ditinggal wafat oleh sang istri. Namun, di balik kesedihan itu, takdir mempertemukannya dengan Sani, seorang janda dua anak yang rutin mengadakan pengajian di masjid tempat ia bertugas. Kehadiran Sani membawa warna baru dalam hidup Hasanuddin, menjadi teman dan penguat dalam masa tuanya.

Kisah cinta, duka, dan pengabdian dalam cerita marbot masjid naik haji ini benar-benar menggugah siapapun yang mendengarnya.

Sebuah Doa yang Dikabulkan

Hasanuddin adalah cerminan dari banyak marbot masjid yang naik haji bukan karena kekayaan, melainkan karena keikhlasan dan kesungguhan. Ia membuktikan bahwa peran sekecil apapun jika dijalani dengan niat tulus bisa membuka jalan menuju Tanah Suci.

Cerita marbot masjid naik haji ini bukan hanya inspiratif, tapi juga menjadi pengingat bahwa setiap doa memiliki waktunya sendiri untuk dikabulkan.

Sumber: Okezone

Terus kunjungi website kita di AktualTangerang.com untuk lebih banyak lagi artikel seputar Tangerang Raya dan Nasional. Jangan lupa follow akun sosial media di Instagram dan Tiktok

 

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini