Hari Pertama Sekolah di Tangsel Masih Diwarnai Penutupan Jalan Oleh Warga
Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2025/2026 di Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (14/7/2025), diwarnai aksi protes warga yang menyegel akses jalan menuju SMAN 3 Kota Tangerang Selatan.
Penyegelan dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap sistem penerimaan murid baru (SPMB) yang dianggap tidak berpihak pada warga sekitar.
Portal jalan utama di depan SMAN 3 ditutup oleh warga di dua arah. Para siswa yang telah diimbau sebelumnya untuk tidak membawa kendaraan bermotor hanya bisa berjalan kaki melalui sisi portal untuk bisa masuk ke area sekolah.
“Kemarin sudah sempat mau dibuka, tapi batal karena tidak adanya kesepakatan,” kata Agung D., petugas keamanan di SMAN 3 Tangsel.
Menurut Agung, upaya untuk membuka kembali akses menjelang kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) juga ditolak warga. “Ditolak sama warga sini,” ujarnya.
Aksi penyegelan ini dilakukan oleh kelompok warga yang menamakan diri Warga Wong Pitu RW 010 hingga 016. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan pesan protes, “Mohon maaf atas ketidaknyamannya jalan dan portal ditutup sementara bukan bermaksud mengganggu tapi untuk dilihat dan didengar. Berikan hak pendidikan yang adil bagi anak-anak lingkungan kami bersekolah di SMA Negeri 3.”
Protes terhadap Sistem Zonasi dan Dugaan Jual Beli Kursi
Penyebab utama aksi warga ini diduga berasal dari kebijakan SPMB tahun ini yang mengurangi kuota jalur zonasi atau domisili. Warga mengeluhkan bahwa anak-anak mereka yang tinggal di sekitar sekolah justru tidak diterima di sekolah negeri terdekat.
Selain itu, mencuat pula dugaan praktik “jual beli kursi” di sejumlah SMA Negeri di Kota Tangsel yang ditengarai terjadi dari tahun ke tahun. Dugaan ini semakin menyulut kemarahan warga karena mempersempit peluang siswa lokal untuk bisa masuk ke sekolah negeri.
Dinas Pendidikan: Masalah Sudah Ditangani
Menanggapi situasi ini, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Lukman, menegaskan bahwa permasalahan di SMAN 3 dan SMAN 6 sudah dalam penanganan.
Menurutnya, sembilan siswa yang sebelumnya tidak tertampung telah disalurkan ke sekolah swasta sesuai ketentuan yang berlaku. Ia berharap solusi ini dapat meredakan ketegangan sementara waktu.
“Insya Allah persoalan ini sudah bisa diselesaikan,” ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut belum meredakan kekecewaan warga, yang menuntut pemerataan akses pendidikan negeri khususnya bagi anak-anak di lingkungan sekitar sekolah.
Situasi ini menjadi sorotan tajam terhadap pelaksanaan SPMB di wilayah padat penduduk seperti Tangsel, dan menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pusat untuk mengevaluasi sistem penerimaan siswa agar lebih adil dan transparan.
Terus kunjungi website kita di AktualTangerang.com untuk lebih banyak lagi artikel seputar Tangerang Raya dan Nasional. Jangan lupa follow akun sosial media di Instagram dan Tiktok











Leave a Reply