sumber foto:pxfuel.com
Adab Mendengar & Berbicara: Menjadi Pendengar yang Baik, Pembicara yang Bijak
Oleh: Ust. Saat Mubarok, Lc.
Di zaman ketika semua orang ingin didengar, hanya sedikit yang benar-benar mau mendengarkan. Padahal dalam Al-Qur’an dan teladan para ulama salaf, adab mendengar ditempatkan lebih dahulu sebelum adab berbicara. Tidak hanya dalam struktur bahasa, tapi juga dalam urutan pembentukan karakter.
Mari kita renungkan sejenak: kenapa mendengar harus didahulukan sebelum berbicara?
Dalam Al-Qur’an: Urutan yang Sarat Makna
Ilmu tafsir mengenal istilah taqdim wa ta’khir, yaitu mendahulukan sesuatu sebelum yang lain, yang bukan tanpa maksud. Dalam banyak ayat, Allah mendahulukan sesuatu untuk menunjukkan pentingnya. Salah satu contohnya:
“Dan Dia memberikan hartanya dengan cinta kepada kerabat dekat, dan anak yatim, dan orang miskin…”
(QS. Al-Baqarah: 177)
Pesannya jelas: jangan sampai perhatian kita kepada anak yatim dan orang miskin mengalahkan perhatian kita kepada kerabat dekat apalagi keluarga sendiri. Begitu pula dalam konteks mendengar dan berbicara—jadilah pendengar yang baik terlebih dahulu, agar layak menjadi pembicara yang baik.
Menjadi Pendengar: Jalan Menuju Ilmu dan Hikmah
Dalam Al-Qur’an, Allah mengenalkan diri-Nya dengan sifat:
As-Samii’ (Maha Mendengar) → Al-‘Aliim (Maha Mengetahui) → Al-Hakiim (Maha Bijaksana)
Urutan ini mengajarkan bahwa mendengar dengan baik akan melahirkan pengetahuan, dan ilmu yang digunakan dengan benar akan menumbuhkan kebijaksanaan.
“Jadilah pendengar yang baik, maka kamu akan menjadi orang berilmu. Dan orang berilmu yang menggunakan ilmunya dengan bijak akan menjadi pribadi yang luhur dan bijak.”
Hasan Al-Bashri pernah berkata:
“Bersemangatlah mendengar lebih dari semangatmu berbicara. Jangan memotong pembicaraan orang lain.”
Sementara Atha’ bin Abi Rabah memberi teladan luar biasa:
“Aku pernah mendengarkan cerita seseorang dengan saksama, padahal aku sudah tahu kisah itu sejak sebelum ia lahir.”
Inilah bentuk adab mendengar yang luhur bukan soal informasi baru, tapi sikap hormat kepada yang sedang berbicara.
Adab Berbicara: Menyampaikan Tanpa Menyakiti
Berbicara juga ada adabnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari Muslim)
Berbicara yang baik adalah yang:
- Berdasar ilmu, bukan hanya emosi.
- Disampaikan dengan hikmah, sesuai waktu, tempat, dan lawan bicara.
- Menghindari ghibah, celaan, atau kata-kata kasar.
- Tidak menyombongkan diri atau merendahkan orang lain.
- Tidak asal menyebar apa yang didengar tanpa verifikasi.
Dari Lisan ke Jempol: Adab di Era Digital
Kini, berbicara tak lagi hanya lewat mulut. Banyak terjadi lewat jempol di layar ponsel. Maka jika dulu ada nasihat “mulutmu harimaumu”, kini kita harus hati-hati karena: “Jempolmu juga harimaumu.”
Saring sebelum sharing. Tahan sebelum komentar. Tilik isi hati sebelum menulis.
Adab Itu Cermin Keimanan
Adab mendengar dan berbicara bukan sekadar etika sosial, tapi refleksi iman dan akhlak. Seseorang yang tahu kapan harus diam, kapan harus menyimak, dan kapan harus bicara dengan bijak itulah pribadi berkelas yang dicintai Allah.
Penutup: Yuk, Belajar Jadi Pendengar dan Pembicara yang Beradab
Adab itu tangga menuju kemuliaan. Mari kita terus belajar—untuk menyimak dengan empati dan berbicara dengan hikmah. Karena kebaikan yang kita tabur lewat telinga dan lisan, akan kembali sebagai keberkahan dalam hidup.
📌 Dapatkan lebih banyak inspirasi Qur’ani dan hikmah harian lainnya di Aktual Tangerang.
Follow juga media sosial kami untuk konten-konten reflektif, santai tapi berisi, dan bikin adem hati.











Leave a Reply