Air Serpong Lagoon Tercemar E. coli, Warga Tekor Rp1,5 Juta

Adi Subchan - 22 October 2026

Ratusan warga Serpong Lagoon, Tangsel, terserang diare akut. Pemeriksaan menemukan bakteri E. coli dalam sampel air WTP perumahan. (FOTO: iStockphoto/ILUSTRASI)
Ratusan warga Serpong Lagoon, Tangsel, terserang diare akut. Pemeriksaan menemukan bakteri E. coli dalam sampel air WTP perumahan. (FOTO: iStockphoto/ILUSTRASI)

Aktual Tangerang – Krisis kualitas air di Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, membuat pengeluaran rumah tangga warga membengkak. Mereka harus membeli air tambahan untuk memasak, minum, hingga mencuci peralatan makan.

Novi (41), salah satu warga, mengaku tetap membayar tagihan air dan iuran pemeliharaan lingkungan (IPL) sekitar Rp1 juta setiap bulan. Namun, kualitas air yang diterimanya selama bertahun-tahun membuatnya tidak berani menggunakan air tersebut untuk memasak maupun konsumsi.

Kekhawatiran itu semakin besar setelah Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam air yang disalurkan kepada warga.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, kadar kontaminasi bakteri dilaporkan mencapai 955. Padahal, parameter E. coli dalam air yang memenuhi persyaratan harus nol.

Air tersebut dipasok melalui instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) Serpong Lagoon yang dikelola PT Arfa Putra Soegama.

Air Berubah Warna Sejak 2016

Bagi Novi, persoalan kualitas air bukan masalah baru. Sejak tinggal di Serpong Lagoon pada 2016, ia mengaku kerap mendapati air berubah warna, mulai dari kekuningan hingga kehitaman.

“Kadang hitam kalau yang parah banget. Kadang menguning,” ujar Novi, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga :  Korban Bullying, Siswa SMPN 19 Tangsel Terancam Lumpuh

Karena kondisi tersebut, Novi mengaku sejak awal membatasi penggunaan air WTP untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Sementara itu, kebutuhan memasak dan konsumsi keluarganya dipenuhi menggunakan air dari sumber lain.

“Jadi emang dari awal saya sudah ga yakin air (WTP) itu bisa dikonsumsi, makanya buat MCK aja,” ucap Novi.

Ibu tiga anak tersebut mengandalkan air kemasan untuk memenuhi kebutuhan minum keluarganya. Dalam tiga hari, ia bisa membeli empat hingga enam galon air.

Kebutuhan air bersih semakin meningkat setelah dugaan pencemaran air mencuat. Novi kini juga harus memastikan air untuk membilas peralatan makan keluarganya aman digunakan.

“Jadi buat cuci piring sama masak itu pakai air galon isi ulang, kalau minum kita pakai air mineral,” ucap Novi.

Untuk kebutuhan memasak dan mencuci peralatan makan, Novi membeli air isi ulang seharga Rp7.000. Sementara itu, air mineral bermerek tertentu dibelinya seharga Rp23 ribu per galon.

Pengeluaran Air Tembus Rp1,5 Juta per Bulan

Pengeluaran tambahan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dapat mencapai lebih dari Rp1 juta setiap bulan. Jika dihitung bersama kebutuhan gas rumah tangga, total pengeluaran tersebut mendekati Rp1,5 juta.

Baca Juga :  Air Serpong Lagoon Tak Layak Dikonsumsi, Ditemukan Bakteri E. coli

Biaya itu harus ditanggung di luar tagihan bulanan yang dibayarkan kepada pengelola WTP. Padahal, tagihan gabungan air dan IPL yang dibayarkan Novi mencapai sekitar Rp1 juta per bulan.

“Jadi saya tuh sudah habis-habisan mas, ngeluarin uang ekstra banget buat air ini. Padahal kita udah bayar mahal buat WTP yang kalau digabung IPL sama air itu penagihannya Rp 1 juta per bulan ,” keluh wanita yang membuka usaha katering tersebut.

Novi berharap pengelola WTP bertanggung jawab atas persoalan kualitas air yang dikeluhkan warga. Ia mengusulkan kompensasi, termasuk pembebasan biaya air selama masalah tersebut belum terselesaikan.

“Kalau bisa, semua digratisin air selama proses ini atau bagaimana, karena belum ada jawaban juga dari WTP,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak kesehatan yang dialami warga setelah dugaan pencemaran air mencuat. Menurutnya, ratusan warga mengalami muntah dan diare yang diduga berkaitan dengan penggunaan air tercemar.

Dua anak Novi juga disebut terdampak dalam kasus tersebut.

Warga Minta Pemerintah Kawal Penyelesaian

Novi berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus mengawal penanganan persoalan tersebut hingga tuntas. Ia tidak ingin masalah kualitas air kembali berlalu tanpa penyelesaian yang jelas.

“Pinginnya saya jangan kayak dulu-dulu, masalah air ini nguap gitu aja. Mudah-mudahan kali ini beneran ada solusi, karena sudah ratusan warga jadi korban sakit diare sampai harus dirawat karena air WTP,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak pengelola WTP Serpong Lagoon belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai keluhan kualitas air tersebut.

Penanggung jawab operasional WTP Serpong Lagoon, Ahmad Yusuf, tidak memberikan keterangan saat dimintai tanggapan. Ia menyampaikan hal tersebut setelah menghadiri rapat bersama Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan warga pada Rabu (21/10/2026).

“No comment,” ujarnya singkat sembari berjalan meninggalkan lokasi. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini