Aktual Tangerang – Warga Perumahan Serpong Lagoon, Kota Tangerang Selatan, mempertimbangkan menempuh jalur hukum terhadap pengelola air bersih. Langkah tersebut setelah 146 warga dilaporkan mengalami gejala muntah, diare, dan demam.
Warga menduga gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan kualitas air dari instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP). Namun, hubungan antara kualitas air dan gejala yang dialami warga masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Perwakilan warga, Anis Silvia, mengatakan rencana menempuh jalur hukum masih perlu dibahas bersama warga dan pengurus lingkungan.
“Kita diskusikan dengan pimpinan dan Pak RT/RW kita. Tapi mungkin kita akan menunjuk ke sana. Ini last action sebetulnya,” kata Anis seusai mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPRD Tangsel, Rabu (14/10/2026).
Meski demikian, Anis belum dapat memastikan apakah seluruh warga menyepakati langkah tersebut. Menurutnya, keputusan itu belum dibahas bersama seluruh warga.
“Saya belum bisa bicara atas nama warga semua ya, karena belum membicarakan secara bersama-sama,” ujarnya.
Anis mengatakan warga kemungkinan membentuk tim untuk membahas langkah selanjutnya setelah RDP. Tim tersebut diharapkan dapat merumuskan tindak lanjut atas persoalan yang dialami warga.
Ia berharap penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada keluhan air kotor. Pemeriksaan juga perlu menelusuri persoalan mendasar, mulai dari perizinan hingga standar baku mutu dan pengelolaan air.
Menurut Anis, keterlibatan berbagai dinas dan perhatian DPRD Tangsel dapat mendorong perbaikan pengelolaan air. Upaya tersebut diharapkan mencegah kejadian serupa terulang.
“Mudah-mudahan dengan KLB ini menjadi berkah ya. Karena kalau tidak ada pushing factor seperti ini, mungkin kasusnya hanya tentang air kotor,” katanya.
“Tapi kalau seperti ini kan sudah akar masalahnya jadi kelihatan,” tambah Anis.
Sebelumnya, sebanyak 146 warga Perumahan Serpong Lagoon dilaporkan mengalami gejala muntah, diare, dan demam. Jumlah tersebut berdasarkan pendataan warga per 9 Oktober 2026.
Warga menduga gangguan kesehatan itu berkaitan dengan kualitas air dari WTP yang dialirkan ke rumah-rumah. Mereka juga mengeluhkan kondisi air yang keruh, berbau seperti comberan, dan terasa berlendir saat ditampung.
Meski demikian, dugaan keterkaitan antara kualitas air dan gangguan kesehatan warga belum dapat dipastikan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.
Warga berharap penanganan kasus ini dapat mengungkap sumber persoalan dan mendorong perbaikan layanan air bersih di lingkungan mereka. (*)






Leave a Reply