Mbok Yem Penjaga Warung tertinggi di Indonesia

admin - 24 April 2025

mbo yem

Mbok Yem Gunung Lawu, Penjaga Puncak yang Akhirnya Turun

Tangerang-Di balik kabut abadi dan dinginnya udara di puncak Gunung Lawu, berdirilah sebuah warung kecil yang telah menjadi legenda. Ialah Wakiyem atau akrab kita kenal dengan Mbok Yem Gunung Lawu sang pramuniaga yang miliki warung tertinggi di Indonesia.

Nama yang telah melegenda di kalangan para pendaki, pecinta alam, hingga peziarah spiritual. Mbok Yem Gunung Lawu bukan hanya nama seorang perempuan, melainkan simbol ketabahan, kesederhanaan, dan ketulusan hidup di atas awan.

30 Tahun di Puncak Lawu

Lebih dari tiga dekade, Mbok Yem telah memilih tinggal di Hargo Dalem, sebuah tempat di dekat puncak Gunung Lawu. Ia menetap di ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut, jauh dari hiruk-pikuk kota dan kenyamanan dunia modern. 

Di tengah medan yang terjal dan suhu yang sering menusuk tulang, Mbok Yem setia menjaga warungnya menyambut orang-orang. Bagi banyak orang, kehadiran Mbok Yem Gunung Lawu adalah oase dalam pendakian yang melelahkan.

Warung kecilnya menjadi tempat perhentian yang sangat dinanti. Teh panas, nasi pecel hangat, atau mie instan yang disajikan dengan penuh kasih menjadi menu penyelamat para pendaki.

Lebih dari sekadar pelepas lelah, kehangatan yang ditawarkan Mbok Yem datang dari senyuman ramah dan sapaan tulus yang selalu ia berikan kepada siapa pun yang singgah. Tak sedikit yang menganggap Mbok Yem Gunung Lawu sebagai penjaga spiritual gunung ini.

Banyak kisah beredar tentang bagaimana Mbok Yem hadir dalam situasi genting, membantu pendaki yang tersesat, atau hanya sekadar menjadi teman ngobrol di tengah malam yang sunyi. Meski usianya telah menua, ia tetap kuat, tetap semangat, dan tak pernah menunjukkan keinginan untuk turun gunung. 

Baca Juga :  Peraturan Sepeda Listrik

“Di sinilah rumah saya,” katanya suatu kali dalam sebuah wawancara dengan media lokal. Kalimat sederhana itu mengandung filosofi dalam tentang hidup, pengabdian, dan rasa memiliki.

Ketabahan Mbok Yem Gunung Lawu

Keputusan Mbok Yem untuk tinggal di Gunung Lawu bukan tanpa alasan. Baginya, gunung bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat pengabdian. 

Ia tidak mencari popularitas atau kekayaan, melainkan ingin hidup dalam keselarasan dengan alam dan sesama. Itulah mengapa sosok Mbok Yem Gunung Lawu begitu dihormati oleh siapa pun yang pernah mendakinya.

Mbok Yem Turun Gunung untuk Selamanya

Kepergian Mbok Yem tak hanya meninggalkan duka, tetapi juga tanya di hati para pendaki yang biasa disambut hangat olehnya di puncak Lawu. Menurut keterangan keluarga dan warga sekitar, Mbok Yem menghembuskan napas terakhir karena faktor usia yang memang telah lanjut, serta kondisi kesehatan yang kian menurun beberapa bulan terakhir. 

Wanita 82 tahun ini mengeluh sakit dan kondisi kesehatannya menurun sejak Februari 2025. Biasanya, Mbok Yem melakukan tradisi turun gunung setahun sekali itupun saat menjelang Idulfitri. 

Namun pada Selasa, 4 Maret 2025, Mbok Yem terpaksa turun lebih awal. Dalam kondisi tubuh yang lemah dan kaki yang membengkak karena dugaan asam urat, ia ditandu oleh enam orang secara bergantian melewati jalur Cemoro Sewu.

Proses evakuasi dari warungnya dimulai pukul 08.00 pagi dan baru tiba di Basecamp Cemoro Sewu pukul 11.00 WIB. Meskipun sempat sulit dibujuk, Mbok Yem akhirnya bersedia turun setelah merasa tubuhnya tak sanggup lagi melawan udara dingin dan kerasnya alam gunung.

Setelah berhasil turun dari Gunung Lawu dan menjalani perawatan intensif di RSU Aisyiyah Ponorogo, hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Mbok Yem menderita pneumonia.

Baca Juga :  Harley Davidson Luncurkan 7 Motor Baru

“Hasil pemeriksaan ada pneumonia, ada bengkak, rontgennya ya pneumonia,” jelas Muh. Arbain, Humas RSU Aisyiyah, sebagaimana dikutip dari Kompas.com (7/3/2025).

Sejak turun dari puncak, tim medis memang langsung memfokuskan perawatan untuk memulihkan kondisi tubuh Mbok Yem. Namun, proses itu tak mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah pola makan Mbok Yem yang sangat terbatas. 

Ia diketahui enggan mengkonsumsi makanan tinggi protein seperti daging, telur, dan susu. Hal ini membuat tubuhnya semakin rentan terhadap penyakit.

Awalnya Mbok Yem sempat mengeluhkan sakit gigi dan gigi taring yang goyang. Akibatnya, ia mengalami kesulitan makan hingga tubuhnya semakin melemah. 

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa Mbok Yem mengaku telah jatuh sebanyak tiga kali sebelum akhirnya berhasil dievakuasi dari warungnya yang berada di Hargo Dalem, Gunung Lawu.

Perjalanan hidup Mbok Yem adalah kisah tentang keteguhan dan pelayanan tanpa pamrih. Bahkan saat tubuhnya sudah lemah, semangatnya tetap membara untuk tetap tinggal dan melayani para pendaki. Ia pernah goreng telur jam dua pagi hanya demi memastikan para pendaki punya sesuatu yang hangat untuk disantap.

Nama yang Abadi di Puncak Lawu

Kini, Mbok Yem telah menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi Gunung Lawu. Namanya disebut-sebut dalam berbagai cerita pendakian, disebut dalam doa para peziarah, dan dijadikan inspirasi oleh banyak orang.

Ia adalah contoh nyata bahwa kehidupan yang sederhana bisa membawa pengaruh luar biasa. Bahwa tinggal di tempat tinggi bukan hanya perkara fisik, tapi juga soal makna hidup yang mendalam.

Bagi para pendaki, pertemuan dengan Mbok Yem Gunung Lawu adalah momen yang tak terlupakan. Sebuah pengingat bahwa dalam setiap pendakian yang berat, selalu ada kehangatan yang bisa ditemukan di sebuah warung kecil, bersama perempuan tua yang tak pernah turun dari gunung.

Baca Juga :  Dari Gambar Peta Menuju Dunia

Sumber; Detik.com

Sumber foto: palpos.bacakoran.co

Yuk, baca lebih banyak informasi inspiratif dan aktual lainnya hanya di website Aktual Tangerang dan follow kami di Instagram dan Tiktok.  

 

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini