Kenaikan harga Pertamax memicu lonjakan permintaan Pertalite di Tangerang. Stok cepat habis, warga dan ojol kesulitan mencari BBM bersubsidi.
Aktual Tangerang – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax memicu perubahan pola konsumsi masyarakat.
Di sejumlah SPBU Kota Tangerang, warga mengeluhkan sulit mendapatkan Pertalite. Stok Pertalite disebut cepat habis akibat lonjakan permintaan dalam beberapa hari terakhir.
Banyak pengguna kendaraan beralih ke Pertalite setelah harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter.
Kondisi tersebut diakui pengawas SPBU 34.151.16 Karang Mulya, Tangerang, Nurohman. Menurut dia, penjualan Pertamax turun sekitar 20 persen sejak harga mengalami kenaikan.
“Sesudah kenaikan kemarin, penjualan Pertamax turun sekitar 20 persen. Konsumen banyak beralih ke Pertalite,” kata Nurohman, Sabtu (13/6/2026).
Ia menyebut antrean kendaraan roda dua terus terjadi hingga malam hari. Bahkan, antrean masih terlihat saat gerbang SPBU hendak ditutup.
Distribusi Tersendat
Tingginya permintaan tidak diimbangi pasokan yang lancar. Nurohman mengatakan pengiriman BBM kerap mengalami keterlambatan.
Selain itu, pasokan harian sering dikirim secara bertahap. Akibatnya, stok Pertalite cepat habis sebelum pasokan berikutnya tiba.
“Seharusnya 16 kiloliter dikirim sekaligus. Namun, yang datang lebih dulu hanya delapan kiloliter,” ujarnya.
Menurut dia, volume tersebut biasanya habis dalam satu shift pelayanan. Keterlambatan pengiriman membuat stok sempat kosong pada pagi hari.
Nurohman menambahkan, SPBU tidak dapat menguras tangki hingga benar-benar kosong.
Langkah itu dilakukan untuk mencegah kerusakan mesin pompa. “Kalau dipaksakan sampai habis, mesin bisa rusak. Biaya perbaikannya sangat mahal,” tuturnya.
Warga Terbebani
Kelangkaan Pertalite menambah beban pengeluaran masyarakat. Albert (29), pekerja lepas, mengaku harus berkeliling mencari BBM bersubsidi.
Ia mendatangi sekitar enam SPBU dari wilayah Cengkareng hingga Tangerang. Hasilnya, Pertalite tetap sulit ditemukan.
Karena kebutuhan mendesak, Albert akhirnya membeli Pertamax. Ia mengaku harus mengeluarkan Rp35.000 untuk mengisi bahan bakar.
“Pusing, uang habis di jalan. Saya sampai ganti merek rokok yang lebih murah,” kata Albert.
Keluhan serupa disampaikan Rizik (23), pengemudi ojek online (ojol). Ia harus mendatangi tiga SPBU berbeda untuk mencari Pertalite.
Karena tidak menemukan stok, Rizik membeli Pertamax agar tetap bisa bekerja.
“Tadi isi Pertamax Rp15.000. Itu belum sampai satu liter, hanya untuk keadaan darurat,” ujarnya.
Untuk menghemat pengeluaran, Rizik mengurangi biaya jajan harian. Ia kini lebih sering makan dari rumah sebelum bekerja.
“Biasanya jajan sampai Rp50.000 sehari. Sekarang paling sekitar Rp20.000 saja,” ucap Rizik.
Warga berharap distribusi Pertalite segera kembali normal. Mereka meminta pasokan BBM bersubsidi tersedia secara stabil.
Kondisi tersebut dinilai penting untuk menjaga aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. (*)











Leave a Reply