Kemarau, Penjualan Air Galon di Keranggan Naik Tiga Kali Lipat

Adi Subchan - 20 July 2026

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi
FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

Musim kemarau membuat penjualan air galon di Keranggan, Tangsel, melonjak hingga tiga kali lipat setelah sumur warga Kampung Koceak mengering.

Aktual Tangerang – Musim kemarau memicu lonjakan permintaan air galon di Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Warga Kampung Koceak mengandalkan air galon setelah sumur mengering selama sebulan terakhir.

Musim kemarau berdampak pada meningkatnya kebutuhan air bersih di wilayah Kota Tangerang Selatan.

Kampung Koceak, Kelurahan Keranggan, menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak kekeringan. Sumur milik warga telah mengering sejak satu bulan terakhir.

Selain untuk minum, air galon juga digunakan warga untuk kebutuhan memasak. Kondisi tersebut membuat penjualan air galon mengalami lonjakan signifikan.

Pedagang air mineral galon di Keranggan, Rosyid, mengaku penjualan meningkat hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

“Banyak yang beli. Ada yang beli dua galon sekaligus,” kata Rosyid, pedagang air mineral galon di Keranggan, Senin (20/7/2026).

Baca Juga :  Tangsel Kebanjiran Tenaga Kerja Asing, Pengangguran Meningkat?

Rosyid mengatakan, penjualan hariannya kini mencapai sekitar 120 galon. Sebelumnya, penjualan berkisar 50 hingga lebih dari 100 galon per hari.

“Kalau biasanya 50 galon, atau kadang-kadang 100 lebih per hari. Tapi kalau sekarang setiap hari itu sekitar 120 galon,” ungkapnya.

Menurut Rosyid, pembeli tidak hanya datang langsung ke tempat usahanya. Sebagian warga membeli air melalui warung yang menjadi mitra penjualannya.

“Pembelinya ada yang langsung datang ke saya, ada juga yang saya titip jual ke warung-warung di kampung,” ucapnya.

Rosyid menjual air galon seharga Rp5.000 bagi pembeli yang membawa galon sendiri. Layanan antar ke rumah dikenakan tarif Rp6.000 per galon.

Sementara itu, warung mitra membeli air dengan harga Rp4.000 per galon. “Kalau yang saya titip di warung harga nya Rp 4.000, karena mereka kan harus jual lagi dan belinya banyak,” katanya.

Meski permintaan meningkat, Rosyid belum khawatir kehabisan pasokan air.

Sumber air usahanya berasal dari sumur bor pribadi sedalam 14 meter.

Baca Juga :  69 Warga Tangsel Ikuti Program Kerja ke Jepang dan Eropa

Selama empat tahun menjalankan usaha, sumur tersebut belum pernah mengalami kekeringan.

“Enggak khawatir, Alhamdulillah belum pernah kekeringan. Tahun 2023 pernah kemarau enam bulan, aman-aman aja kok,” katanya.

Rosyid menilai kondisi itu dipengaruhi struktur tanah di sekitar sumur. Lapisan pasir batu, cadas, dan pasir masih mampu menyimpan cadangan air.

“Jadi di bawah itu sumbernya air pasir, makanya aman. Belum pernah kering sama sekali,” utaranya. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini