Kenaikan harga kantong plastik hingga 100 persen memaksa pelaku UMKM di Tangsel mengurangi penggunaan kemasan demi menekan biaya.
Aktual Tangerang – Kenaikan harga plastik berdampak luas bagi pelaku UMKM di Tangerang Selatan (Tangsel). Mereka terpaksa menekan biaya operasional dengan mengurangi penggunaan kemasan plastik.
Eka, pemilik usaha laundry di Bakti Jaya, Setu, membatasi penggunaan kantong plastik. Ia menyampaikan kebijakan itu kepada pelanggan melalui pesan singkat.
“Mohon maaf, sementara kami tidak menyediakan plastik merah,” tulis Eka, Minggu (5/4/2026).
Biasanya, pakaian pelanggan dikemas menggunakan kantong plastik setelah proses pencucian selesai. Plastik merah digunakan untuk pengiriman hasil laundry yang sudah rapi.
Namun kini, seluruh pakaian pelanggan hanya dikemas dalam satu kantong plastik. Langkah itu diambil untuk menekan lonjakan biaya operasional.
Eka mengungkapkan harga plastik naik signifikan di tingkat pengecer. “Harga satu bungkus kini sekitar Rp40 ribu, sebelumnya Rp16 ribu,” ujarnya.
Ia memperkirakan kenaikan harga hampir mencapai 90 persen di toko langganannya. Bahkan, di tempat lain kenaikan bahkan bisa melebihi 100 persen.
Jika penggunaan plastik tidak dikurangi, biaya produksi usaha akan meningkat tajam. Namun, menaikkan tarif laundry dinilai berisiko kehilangan pelanggan.
“Kalau harga jasa dinaikkan, pelanggan bisa beralih ke tempat lain,” kata Eka.
Eka berharap harga plastik segera kembali stabil agar usaha kecil tetap bertahan.
Keluhan serupa disampaikan Tami, pemilik toko kelontong di Permata Pamulang. Ia mengaku harga kantong plastik untuk pembeli juga melonjak tajam.
“Yang biasanya Rp7.000, sekarang sudah Rp12 ribu,” ujar Tami.
Kenaikan harga plastik terjadi sejak awal April 2026 di berbagai daerah. Lonjakan harga berkisar antara 30 hingga 100 persen, tergantung jenis plastik.
Jenis plastik bening, PE, dan PP menjadi yang paling terdampak kenaikan harga.
Sejumlah pelaku usaha menilai kenaikan ini dipicu gangguan pasokan bahan baku impor. Biji plastik berbasis nafta dari Timur Tengah mengalami hambatan distribusi.
Tekanan geopolitik global turut memengaruhi harga bahan baku tersebut.
Nilai tukar rupiah yang melemah memperparah kenaikan harga di dalam negeri. ***











Leave a Reply