BPS mencatat 102.715 warga Kabupaten Tangerang masih menganggur pada 2025. TPT turun tipis menjadi 5,94 persen seiring penyerapan tenaga kerja.
Aktual Tangerang – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tangerang mencatat 102.715 warga masih menganggur sepanjang 2025. Sementara itu, jumlah penduduk yang telah bekerja mencapai 1.626.000 orang.
Data tersebut menunjukkan persoalan ketenagakerjaan masih menjadi tantangan di Kabupaten Tangerang. Meski begitu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS mencatat TPT turun dari 6,06 persen pada 2024 menjadi 5,94 persen pada 2025. Artinya, angka pengangguran terbuka berkurang sebesar 0,12 persen dalam setahun.
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Tangerang, Masayu Norma Yunita Sari, menilai penurunan itu diduga dipengaruhi meningkatnya penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, pembangunan pabrik dan masuknya investasi baru turut membuka lapangan pekerjaan.
“Ada indikasi penyerapan tenaga kerja dari maraknya pembangunan pabrik atau investasi baru baru-baru ini. Beberapa tenaga kerja kita akhirnya terserap oleh korporasi,” ujar Masayu saat ditemui, Rabu (5/8/2026).
Meski demikian, Masayu mengatakan penurunan TPT masih tergolong terbatas. Ia menilai, perluasan sektor industri belum mampu menekan angka pengangguran secara signifikan.
Masayu menduga kondisi itu dipengaruhi kekhawatiran terhadap perpindahan operasional sejumlah investor ke luar Kabupaten Tangerang.
“Penurunan persentase pengangguran tersebut relatif kecil, sebab penurunan tipis ini terjadi di tengah kekhawatiran publik mengenai adanya sejumlah investor yang memindahkan basis operasionalnya keluar dari wilayah Kabupaten Tangerang,” katanya.
Meski terdapat kekhawatiran tersebut, pasar kerja lokal dinilai masih bertahan.
“Dan hasil pemotretan data makro kami menunjukkan bahwa pasar kerja lokal memang masih mampu bertahan, meskipun tidak ekspansif,” jelasnya.
Masayu menegaskan BPS hanya menyajikan gambaran kondisi ketenagakerjaan berdasarkan indikator makro.
Lembaganya tidak melakukan kajian rinci mengenai penyebab lambatnya penurunan angka pengangguran.
“Ini merupakan sebuah kemungkinan berdasarkan indikator makro,” ucap Masayu.
“BPS sendiri tidak mengkaji alasan rincinya secara mikro di lapangan karena tugas utama kami adalah memotret angka makro tenaga kerja,” pungkasnya. (*)











Leave a Reply