Rupiah Loyo, Harga Obat di Tangerang Berpotensi Naik 20 Persen

Adi Subchan - 11 June 2026

RSUD Tigaraksa mengungkap harga obat berbahan baku impor berpotensi naik hingga 20 persen akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Pexels/Ilustrasi)
RSUD Tigaraksa mengungkap harga obat berbahan baku impor berpotensi naik hingga 20 persen akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Pexels/Ilustrasi)

RSUD Tigaraksa mengungkap harga obat berbahan baku impor berpotensi naik hingga 20 persen akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Aktual Tangerang – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memicu kenaikan harga obat.

Kondisi tersebut diperkirakan berdampak pada sejumlah obat berbahan baku impor.

Pada perdagangan Kamis (11/6/2026), rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS.

Data pasar spot menunjukkan rupiah turun tiga poin menjadi Rp17.947 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 114 poin di level Rp17.944 per dolar AS.

Direktur RSUD Tigaraksa dr. Muhammad Faridzi Fikri mengatakan pihaknya telah menerima informasi dari distributor obat.

Informasi tersebut berkaitan dengan rencana penyesuaian harga sejumlah produk obat.

“Kami sebenarnya baru mendapat informasi dari distributor-distributor obat bahwa ada sebagian obat yang akan naik,” ujar Faridzi, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga :  51.300 Balita di Kabupaten Tangerang Terpapar ISPA

Meski demikian, pihak rumah sakit belum menerima rincian resmi besaran kenaikan harga.

“Tapi persentasenya belum disampaikan secara rinci per obatnya,” katanya.

Faridzi memperkirakan kenaikan harga dapat mencapai 15 hingga 20 persen. Perkiraan itu mengacu pada kondisi kurs dolar AS saat ini.

“Kalau melihat nilai dolar segini, kemungkinan sekitar 15 sampai 20 persen,” ucapnya.

Menurutnya, obat yang berpotensi mengalami kenaikan adalah produk berbahan baku impor. Kategori tersebut mencakup antibiotik, obat hipertensi, dan sejumlah obat kanker.

Sebaliknya, obat berbahan baku lokal diperkirakan tidak terdampak signifikan.

“Yang kemungkinan naik itu obat-obatan yang bahan dasarnya impor,” kata Faridzi. “Kalau yang sudah diproduksi lokal, mudah-mudahan tidak terdampak,” lanjutnya.

Meski ada potensi kenaikan harga, pelayanan kesehatan dipastikan tetap berjalan normal. Hal itu karena sebagian besar kebutuhan obat tahun 2026 telah dibeli lebih awal.

“Alhamdulillah untuk RSUD Tigaraksa, proses pembelanjaan obat tahun 2026 hampir selesai semua,” ujarnya.

Baca Juga :  Harga Pertamax Naik, Warga Tangsel Antri Beli Pertalite

Faridzi menyebut sekitar 80 persen kebutuhan obat telah terpenuhi. Sisa pembelian obat juga masih menggunakan harga lama.

“Tinggal sekitar 20 persen lagi yang belum dibelanjakan dan itu pun masih dengan harga lama,” jelasnya.

RSUD Tigaraksa juga telah menyiapkan cadangan stok obat hingga akhir tahun. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga di masa mendatang.

“Kami membuat buffer stock sampai akhir tahun sambil melihat perencanaan anggaran 2027,” katanya.

Dengan strategi tersebut, kebutuhan obat pasien dipastikan tetap aman.

“Jadi untuk kebutuhan obat di rumah sakit, insyaallah aman,” pungkas Faridzi. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini