Rupiah Menguat ke Rp16.870, Sentimen Global Masih Bayangi Pergerakan

Adi Subchan - 26 March 2026

Presiden Prabowo Subianto menilai ekonomi Indonesia tetap stabil meski rupiah melemah di tengah tensi geopolitik global. (Foto: SHUTTERSTOCK/Ilustrasi)
Presiden Prabowo Subianto menilai ekonomi Indonesia tetap stabil meski rupiah melemah di tengah tensi geopolitik global. (Foto: SHUTTERSTOCK/Ilustrasi)

Rupiah dibuka menguat ke Rp16.870 per dolar AS, namun tetap dibayangi penguatan dolar dan ketegangan geopolitik global.

Aktual Tangerang – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Kamis (26/3) pagi dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.870 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan penguatan sebesar 0,21 persen pada Kamis, 26 Maret 2026.

Penguatan ini melanjutkan tren positif dari perdagangan sebelumnya. Pada Rabu, 25 Maret 2026, rupiah ditutup menguat 0,41 persen ke Rp16.905 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS tercatat naik tipis pada pagi hari. Indeks tersebut menguat 0,03 persen ke level 99,628 pada pukul 09.00 WIB.

Kenaikan ini melanjutkan penguatan sebelumnya sebesar 0,17 persen ke posisi 99,599.

Pergerakan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi faktor eksternal global. Dinamika dolar AS menjadi sentimen utama di pasar keuangan.

Baca Juga :  25 Ribu Warga Kabupaten Tangerang Belum Punya e-KTP

Dolar AS tetap menguat pada awal perdagangan di kawasan Asia. Pelaku pasar menunggu kejelasan terkait konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Ketidakpastian geopolitik mendorong investor mencari aset yang lebih aman. Dolar AS menjadi salah satu pilihan utama dalam kondisi tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan masih mengkaji proposal dari AS. Proposal tersebut berkaitan dengan upaya mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Namun, Iran menegaskan belum berencana melakukan perundingan dalam waktu dekat. Konflik di Timur Tengah dinilai masih berpotensi meluas. Pernyataan ini membuat pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati.

Analis Westpac menilai pasar sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru. Investor terus mengevaluasi apakah konflik akan mereda atau kembali meningkat.

Ketidakpastian ini meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.

Penutupan Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga energi dunia. Kondisi tersebut memengaruhi ekspektasi inflasi global dan kebijakan moneter AS.

Baca Juga :  Hemat BBM, Pemkab Tangerang Berencana Terapkan WFH ASN

Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi. Kebijakan tersebut diprediksi berlangsung lebih lama dari sebelumnya.

Penguatan indeks dolar AS membatasi ruang penguatan mata uang lainnya. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang terdampak kondisi tersebut. ***

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini