BMKG ungkap potensi megathrust di Indonesia, aktivis Tangerang gencarkan penanaman mangrove sebagai mitigasi tsunami.
Aktual Tangerang – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap dua zona megathrust berpotensi melepaskan energi besar.
Zona tersebut meliputi Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Gempa besar terakhir di Selat Sunda tercatat pada 1757. Sementara gempa di Mentawai-Siberut terakhir terjadi pada 1797.
BMKG menyebut kondisi ini sebagai seismic gap. Istilah tersebut merujuk wilayah yang lama tidak mengalami gempa besar.
Wilayah itu menyimpan energi besar akibat akumulasi pergerakan lempeng.
“Tinggal menunggu waktu, bukan ramalan dan sering disalahartikan,” tulis BMKG.
BMKG menegaskan pernyataan itu berbasis data geologi dan sejarah gempa. “Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” jelas BMKG.
Lembaga itu menekankan istilah tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan publik.
“Istilah ini bukan untuk menimbulkan kepanikan masyarakat,” jelas BMKG.
BMKG juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 terkait tugasnya. Regulasi itu mengatur pengamatan, pengelolaan data, dan informasi gempa serta tsunami.
Di sisi lain, Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung) menggalakkan penanaman mangrove. Gerakan tersebut dilakukan di pesisir utara Tangerang sebagai mitigasi bencana.
Koordinator Kalung, Ade Yunus, menilai mangrove sebagai benteng alami pesisir.
“Mangrove mampu menyerap energi gelombang dan memperlambat arus laut,” ujar Ade, Minggu (3/5/2026).
Ia menyebut vegetasi itu juga efektif mencegah abrasi pantai. Menurutnya, perlindungan mangrove penting di wilayah rawan tsunami dan megathrust.
“Penjagaan sabuk hijau pesisir harus bebas dari alih fungsi lahan,” tegas Ade.
Ia menambahkan fungsi mangrove harus dijaga untuk perlindungan maksimal masyarakat. ***








Leave a Reply