Warga Ragukan Keseriusan Pemkot Tangsel Tangani Sampah TPA Cipeucang

Adi Subchan - 20 November 2025

Banjir berulang melanda kawasan dekat TPA Cipeucang. Warga rugi jutaan rupiah dan meminta Pemkot Tangsel menangani masalah sampah. (Foto: Kompas.com)
Banjir berulang melanda kawasan dekat TPA Cipeucang. Warga rugi jutaan rupiah dan meminta Pemkot Tangsel menangani masalah sampah. (Foto: Kompas.com)

Banjir berulang melanda kawasan dekat TPA Cipeucang. Warga rugi jutaan rupiah dan meminta Pemkot Tangsel menangani masalah sampah.

Aktual Tangerang – Banjir merendam kawasan sekitar aliran sungai dekat TPA Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (19/11/2025).

Genangan itu membuat warga khawatir karena termasuk yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Pemilik pabrik tahu, Cacu, mengatakan ketinggian air tidak setinggi banjir sehari sebelumnya. Ia menyebut banjir berlangsung sekitar dua jam dengan ketinggian air mencapai sedengkul.

“Baru ini lagi, tapi tidak setinggi kemarin,” ujarnya.

Hujan turun sejak pukul 12 siang hingga pukul 5 sore sebelum banjir masuk ke permukiman.

Sebagian warga menduga banjir berkaitan dengan kondisi sungai yang terhubung ke Cisadane. Namun, belum ada kepastian soal penyebabnya.

Baca Juga :  Benyamin Davnie Ditantang Tinggal di TPA Cipeucang

Cacu mengaku tidak tahu apakah banjir dipicu longsoran sampah. “Belum sempet lihat,” katanya.

Pihak desa dan pemerintah sempat meninjau lokasi, tetapi belum memberi solusi. Cacu menilai banjir setinggi ini jarang terjadi belakangan ini dan cukup meresahkan. Ia berharap kondisi tersebut tidak terulang.

“Pengen sih enggak banjir lagi, tapi gimana caranya. Biar pemerintah aja,” ucapnya pasrah.

Banjir Terus Berulang

Kristiyanto, pemilik pabrik tempe, mengatakan banjir susulan menimbulkan kerugian besar. Sejumlah barang elektronik dan perlengkapan usaha rusak setelah terendam banjir.

“Dampaknya banyak. Kulkas, dua mesin cuci, kacang, motor, baju dan mesin air ikut rusak,” ujarnya.

Baca Juga :  Viral, Tumpukan Sampah Hanyut di Sungai Cisadane

Ia menyebut tempe yang sudah jadi aman karena ditempatkan lebih tinggi. Namun bahan baku kedelai terendam sehingga produksi terganggu.

“Kedelainya kerendam. Susah jadinya. Sekarang banjir susulan lagi,” keluhnya.

Kristiyanto menilai banjir bukan hanya akibat hujan, tetapi juga buruknya pengelolaan sampah. “Pengelolaan sampah di sini sudah bermasalah. Responsnya cuma dibilang sabar,” katanya.

Ia menyebut sampah menumpuk di saluran air dan terbawa arus ke Sungai Cisadane.

Ia menjelaskan air sungai berubah hitam setelah banjir surut. “Pas banjir enggak bau, tapi setelah surut baru terasa. Sisa sampahnya menyengat,” ucapnya.

Kristiyanto menaksir kerugiannya lebih dari lima juta rupiah. Kerugian itu terus bertambah akibat banjir susulan.

“Mesin air baru diperbaiki, tapi sekarang kerendam lagi,” ungkapnya.

Warga berharap pemerintah segera menangani persoalan sampah agar banjir tidak terus berulang.

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini