Pengamat Universitas Trisakti menilai krisis sampah Tangsel akan berlanjut akibat keterbatasan lahan TPA Cipeucang.
Aktual Tangerang – Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, menilai Tangerang Selatan (Tangsel) butuh waktu menyelesaikan masalah sampah.
Status darurat itu akan berlanjut selama persoalan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) belum teratasi.
Yayat menyebut TPA Cipeucang hanya menyisakan lahan sekitar 8.000 meter persegi. Lahan tersisa tersebut saat ini digunakan untuk hanggar dan penyimpanan peralatan.
“Tangerang Selatan hanya menunggu waktu untuk kembali darurat,” kata Yayat, Jumat (19/12/2025).
Menurut Yayat, krisis sampah bisa diatasi melalui pengelolaan sampah berbasis energi listrik. Namun, rencana tersebut dinilai masih menghadapi banyak kendala.
“Pertanyaannya investasi, lokasi, dan mekanisme pengelolaannya,” ujar Yayat.

Ia menilai proyek tersebut juga membutuhkan lahan pendukung. “Ini juga harus menjadi pertimbangan dalam pengembangan selanjutnya,” ucapnya.
Yayat menyebut kondisi TPA Cipeucang sudah darurat sejak 2020. Kondisi itu dipicu pertumbuhan penduduk Tangerang Selatan yang terus meningkat. Pertambahan penduduk tidak diimbangi penambahan lokasi TPA baru.
“Harus diakui kapasitas TPA Cipeucang sudah sangat darurat,” kata Yayat.
Ia menilai TPA tersebut tidak lagi mampu menampung volume sampah warga. Pertumbuhan ekonomi juga mempercepat peningkatan produksi sampah. Sementara itu, Tangerang Selatan hanya memiliki satu TPA aktif.
Yayat menyebut sempat ada rencana pembangunan TPA alternatif. Namun, lokasi tersebut telah ditetapkan sebagai zona permukiman.
Persoalan sampah tengah menjadi polemik di Tangsel. Tumpukan sampah terlihat di sejumlah ruas jalan Ciputat.
Untuk mengatasi persoalan ini, Pemkot Tangsel mengatasi sementara dengan menutup terpal sehingga menimbulkan bau menyengat.
Kondisi ini terjadi akibat TPA Cipeucang yang sudah melebihi kapasitas. Akibatnya, sampah warga Tangsel tidak tertangani secara optimal.








Leave a Reply