Gunung Semeru Meletus, 1.156 Warga Mengungsi

Adi Subchan - 20 November 2025

Erupsi Gunung Semeru melukai tiga warga dan memaksa 1.156 orang mengungsi. BPBD Jatim siagakan tim gabungan dan dapur umum di dua kecamatan. (Foto: Istimewa)
Erupsi Gunung Semeru melukai tiga warga dan memaksa 1.156 orang mengungsi. BPBD Jatim siagakan tim gabungan dan dapur umum di dua kecamatan. (Foto: Istimewa)

Erupsi Gunung Semeru melukai tiga warga dan memaksa 1.156 orang mengungsi. BPBD Jatim siagakan tim gabungan dan dapur umum di dua kecamatan.

Aktual Tangerang – Gunung Semeru kembali meletus dengan meluncurkan awan panas guguran sejauh 13 kilometer pada Rabu (19/11). Aktivitas vulkanik Semeru dilaporkan masih fluktuatif hingga hari ini.

Secara visual, Semeru tampak terus mengeluarkan asap kelabu dari area puncak. Status gunung itu masih berada pada level awas.

“Saat ini Gunung Semeru masih fluktuatif. Status masih level awas,” ujar Manajer Pusdalpos BPBD Lumajayang, Dwi Nur Cahyo, Kamis (20/11/2025).

Petugas mengimbau warga tidak beraktivitas di sisi tenggara Semeru. Larangan berlaku di sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 20 kilometer.

“Warga dilarang beraktivitas di sepanjang Besuk Kobokan,” kata Dwi.

Warga juga diminta menjauhi jalur aliran lahar sejauh 500 meter dari sungai. Selain itu, masyarakat harus mewaspadai potensi awan panas guguran.

Petugas juga memperingatkan ancaman guguran lava serta banjir lahar di aliran sungai.

Baca Juga :  Warga Ragukan Keseriusan Pemkot Tangsel Tangani Sampah TPA Cipeucang

Tiga Warga Terluka, 1.156 Mengungsi

Gunung Semeru meletus pada Rabu kemarin menyebabkan tiga warga mengalami luka bakar akibat material panas. Sebanyak 1.156 warga terpaksa mengungsi ke sejumlah lokasi.

BPBD Jawa Timur melaporkan peningkatan aktivitas Semeru mulai pukul 14.13 WIB. Awan Panas Guguran meluncur sejauh 13 kilometer menuju Besuk Kobokan.

Amplitudo maksimum tercatat 45 milimeter dengan durasi lebih dari 14 ribu detik.

“Letusan ini menyebabkan tiga warga luka bakar dan terluka oleh material panas. Total pengungsi 1.156 jiwa,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno.

Korban pertama adalah Hosen, warga Dusun Umbulan Sumbersari. Ia mengalami luka bakar di kaki setelah terjebak banjir lahar di rumahnya.

“Korban dievakuasi pagi tadi dan dirujuk ke RSUD Pasirian,” lanjut Satriyo.

Dua korban lain merupakan pasangan suami istri asal Kediri, yaitu Haryono dan Normawati. Mereka tergelincir di tumpukan material panas di kawasan Gladak Perak. “Keduanya kini dirawat di RSUD Haryoto,” singkatnya.

Baca Juga :  BNN Bongkar Jaringan Sabu Sumbar–Banten, 8 Kilogram Disita

Pengungsi tersebar di berbagai titik di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro. Di Oro-Oro Ombo, Balai Desa menampung 200 warga, SDN 04 Supiturang menampung sekitar 100 jiwa, Masjid Nurul Jadid menampung 115 pengungsi, dan Masjid Ar-Rahmah di Oro-Oro Ombo menampung sekitar 500 jiwa.

Di Candipuro, SDN 02 Sumberurip menampung 200 warga, kantor Kecamatan Candipuro menampung 101 jiwa, dan rumah Kepala Desa Sumbermujur menampung 55 warga. Jumlah itu terdiri atas 23 dewasa, 28 anak, dan empat balita.

“Sebagian titik pengungsian kosong karena warga sudah pulang,” kata Satriyo.

Upaya pemenuhan pangan dilakukan oleh Tagana Kabupaten Lumajang. Dapur umum didirikan di Balai Desa Sumberurip dengan 200 nasi bungkus. PMI Kabupaten Malang juga membuka dapur umum di Oro-Oro Ombo dengan 300 porsi makanan.

“TRC BPBD Jatim melakukan pendataan. Unit BPBD ONE sudah tiba di Pronojiwo,” ujarnya.

Ia menambahkan Puskesmas Candipuro dan Pronojiwo siaga memberi layanan kesehatan.

Satriyo menyebut tim gabungan terus berjaga untuk memastikan semua warga terselamatkan.

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini