Aksi gerak cepat pengurus warga sektor XIV.5 Nusaloka BSD, Kelurahan Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan tangani darurat sampah
Aktual Tangerang – Pengurus warga Sektor XIV.5 Nusaloka BSD, Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan mengambil langkah cepat mengatasi darurat sampah. Setidaknya sempat lima hari sampah warga menumpuk tak terangkut oleh petugas kebersihan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel.
Pengangkutan sampah oleh petugas utusan DLH setiap hari dalam sepekan, kecuali Sabtu libur. Hanya saja, begitu muncul masalah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, petugas seperti menghilang tak mengangkut sampah.
Jumat lalu, (12/12/2025) petugas kebersihan muncul mengambil sampah dengan armada berbeda. Alasannya, truk sampah milik DLH tunggangannya tertahan di TPA Cipeucang. Truk yang dibawanya itu milik perusahaan pengolahan sampah swasta.
“Truk kita enggak bisa keluar di (TPA) Cipeucang, masih ada sampahnya,” ujar sopir truk sampah pada Aktual Tangerang.
Ketua Bidang Kebersihan RW 07 Sektor XIV.5 Nusaloka BSD, Tatag Mulyadi mengatakan pengurus segera mengambil Langkah cepat untuk mengatasi penumpukan sampah. Yakni dengan melibatkan perusahaan pengolahan sampah swasta.
“Hasil rapat kemarin dengan pengurus RT, akhirnya memutuskan melibatkan perusahaan swasta untuk segera mengangkut sampah. Ini sifatnya tak ada pilihan,” ujar Tatag Mulyadi saat hadir di Rapat Sosialisasi Penanganan Sampah di RT 01 RW 07 semalam.
Mulai Angkut Sampah
Adalah PT Goa (Global Olah Andalan), yang mengangkut sampah warga perumahan dengan 10 RT. Ini perusahaan pengangkut, pengelola, dan pengolah sampah yang beroperasi di area Tangerang Raya (termasuk BSD).
Rabu (17/12/2025) tim pengangkut sampah perusahaan swasta itu mulai beroperasi membersihkan sampah di Sektor XIV.5 Nusaloka BSD. Start pertama menggunakan mobil pickup menjemput sampah warga dengan jumlah sekitar 800 KK.
Ketua RT 01 RW 07, Kelurahan Rawa Mekar Jaya, Serpong, Sunhok dalam sosialisasi pada warganya mengulas kronologis keterlibatan pihak swasta dalam mengangkut sampah. Prinsipnya, kata Sunhok darurat dan butuh penanganan cepat.
Puluhan warga RT 01 hadir dalam sosialisasi itu serta memberikan saran untuk pengelolaan sampah kedepannya, termasuk pembuatan Bank Sampah warga.
“Masalah sampah ini sangat krusial. Enggak diangkat satu dua hari saja bikin masalah,” ujar Sunhok dalam sambutan pada warganya.
Aksi cepat tanggap dari pengurus warga ini bukan tanpa risiko. Konsekuensi dari keputusan melibatkan pengelola sampah swasta ini berdampak pada anggaran.
Tatag Mulyadi menjelaskan keterlibatan pihak swasta dalam pengolahan sampah ini membuat ongkos angkut naik berkali lipat. Hitungan mudahnya beban ongkos sampah setiap kepala keluarga menjadi Rp 45.000 per bulan.
Padahal saat pengangkutan oleh petugas DLH setiap KK hanya Rp 15.000 per bulan. “Untuk sementara Bulan Desember ini bisa di-handle pengurus RW,” ujarnya.









Leave a Reply