DPRD Bongkar Masalah Pelatihan Kerja di Kota Tangerang

Adi Subchan - 24 September 2026

Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Arief Wibowo (Foto: Istimewa)
Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang Arief Wibowo (Foto: Istimewa)

DPRD Kota Tangerang meminta pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri dan dievaluasi pascapelatihan agar penyerapan tenaga kerja meningkat.

Aktual Tangerang – DPRD Kota Tangerang meminta program pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri dan dievaluasi hingga pascapelaksanaan.

Langkah tersebut dinilai penting agar pelatihan memberikan dampak nyata terhadap penyerapan tenaga kerja.

Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang Arief Wibowo mengatakan pelatihan harus diawali analisis kebutuhan. Analisis tersebut dikenal dengan istilah Training Needs Assessment (TNA).

Menurut Arief, TNA diperlukan agar materi pelatihan sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Kalau pelatihan itu kan kaidahnya adalah pertama, dia harus berbasis kepada analisa kebutuhan atau namanya Training Needs Assessment, untuk memastikan bahwa pelaksanaan pelatihan itu memang sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan,” ujarnya, Kamis (24/9).

Arief menilai evaluasi pelatihan tidak cukup hanya melihat teknis pelaksanaan. Peningkatan keterampilan peserta juga perlu menjadi bagian dari evaluasi program.

Pemerintah perlu memastikan keterampilan tersebut dapat diterapkan setelah peserta menyelesaikan pelatihan.

Dampaknya juga perlu dilihat dari peningkatan pendapatan peserta dan penurunan pengangguran.

“Yang kedua adalah, dalam kaidah manajemen pelatihan itu, kita juga perlu bukan hanya melaksanakan, tapi melakukan evaluasi pascapelatihan,” katanya.

Baca Juga :  UMK Kota Tangerang 2026 Diusulkan Naik Rp329 Ribu

Pelatihan Perlu Ditindaklanjuti

Arief meminta Pemkot Tangerang membangun ekosistem setelah peserta menyelesaikan pelatihan. Ekosistem tersebut dapat mencakup akses pemasaran, konsumen, dan pendampingan.

Menurutnya, Disnaker juga perlu melakukan follow up agar keberhasilan program dapat terukur.

“Karena tanpa adanya follow up, saya kira nanti pelatihan kita sulit dievaluasi dampaknya,” tegasnya.

Arief mengatakan evaluasi pascapelatihan diperlukan untuk mengetahui dampak program secara lebih konkret.

Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada pemberian materi dan peningkatan keterampilan peserta.

Soroti Pengangguran Terdidik

Arief turut menyoroti persoalan pengangguran terdidik, khususnya lulusan sarjana di Kota Tangerang.

Menurutnya, Pemkot perlu memiliki database pencari kerja yang valid dan terukur. Data tersebut diperlukan untuk memetakan kebutuhan industri dengan kompetensi para pencari kerja.

Pelatihan kemudian dapat disusun berdasarkan kesenjangan kompetensi yang ditemukan.

“Kalau by data kan Kota Tangerang itu kota di Tangerang Raya yang angka pengangguran dengan jenjang sarjana tertinggi ya, secara nominal angka,” ungkapnya.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Banten Hari Ini, Mayoritas Wilayah Hujan Ringan

Selain kompetensi, Arief menilai perubahan pola pikir lulusan baru juga perlu diperhatikan.

Menurutnya, ekspektasi terhadap posisi dan gaji terkadang menjadi pertimbangan saat menerima pekerjaan.

“Sebagai starter ya atau fresh graduate, poin paling pentingnya sebenarnya kan mendapatkan pengalaman ya, pengalaman terlebih dahulu. Tanpa kemudian mengabaikan aspek kesejahteraan, tentu saja,” ujarnya.

Penyerapan Job Fair Cuma 15-23 Persen

Kepala Disnaker Kota Tangerang Ujang Hendra Gunawan mengatakan kompetensi menjadi faktor penting dalam penyerapan tenaga kerja.

Menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri.

Ujang menyebut penyerapan tenaga kerja melalui job fair berada pada kisaran 15 hingga 23 persen. Angka tersebut dihitung dari jumlah lowongan kerja yang disebarluaskan melalui job fair.

“Kompetensinya. Banyak prodi-prodi, banyak jurusan-jurusan baik di universitas maupun di SMK itu tidak seiring dan sejalan dengan kebutuhan dunia industri atau dunia pasar kerja,” jelasnya.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Disnaker mengembangkan pelatihan berbasis kebutuhan pasar kerja.

Program tersebut juga mencakup pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat.

Ujang mengatakan keterampilan yang diberikan tidak hanya diarahkan untuk bekerja di perusahaan.

Keterampilan tersebut juga dapat menjadi bekal peserta untuk membuka usaha. Dengan demikian, pelatihan diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

Program pelatihan juga diarahkan agar kompetensi pencari kerja semakin sesuai dengan kebutuhan dunia industri. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini