Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie membantah tudingan dana Pemda mengendap dan menegaskan kualitas udara Tangsel masih baik.
Aktual Tangerang – Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, membantah pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait dana pemerintah daerah yang disebut mengendap di perbankan.
Benyamin menjelaskan, dana tersebut merupakan anggaran program prioritas yang belum tersalurkan karena masih dalam proses pembayaran proyek.
“Proyek sudah selesai tender dan sedang berjalan,” ujarnya di DPRD Tangsel, Kamis (23/10/2025).
Ia menegaskan, dana itu tidak disimpan dalam bentuk deposito, melainkan rekening giro pemerintah daerah.
“Pihak ketiga biasanya menagih pada Desember, saat termin ketiga atau keempat,” katanya.
Menurut Benyamin, dana yang belum tertagih tidak mengganggu kegiatan rutin. “Gaji pegawai dan program operasional sudah terselesaikan,” ucapnya.
Ia menambahkan, sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) baru dapat dihitung pada akhir tahun. “Nanti terlihat berapa Silpa dan realisasi serapan anggarannya,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut serapan anggaran daerah masih rendah pada kuartal III-2025. Dana pemda yang mengendap di bank disebut mencapai Rp234 triliun, termasuk dari Tangsel.
Bantahan Soal Kualitas Udara Tangsel
Benyamin juga menepis tudingan bahwa kualitas udara Tangerang Selatan masuk kategori buruk. Menurutnya, data resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan udara Tangsel masih tergolong baik.
“Surat resmi belum saya terima. Informasi itu justru saya baca dari media,” katanya.
Ia menyebut indeks pencemar udara (ISPU) Tangsel berada di angka 53, masih dalam kategori aman. “PM2.5 juga rendah. Nilai tinggi baru menunjukkan polusi,” jelasnya.
Benyamin menilai tudingan udara buruk tidak berdasar. “ISPUnet adalah standar KLHK. Jadi, di mana letak buruknya?” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan imbauan penggunaan masker di Tangsel. “Apa dasarnya? Udara di Tangsel masih aman,” tegasnya.
Meski begitu, Pemkot Tangsel tetap menjaga kualitas udara melalui penghijauan dan uji emisi kendaraan.
“Saya sudah menanam lebih dari 10 ribu pohon, ditambah 30 ribu bibit trembesi dan trambesi dari pengembang,” ungkapnya.
Benyamin menambahkan, cuaca panas yang dirasakan warga juga terjadi di banyak daerah Indonesia.
“Bukan hanya Tangsel. Suhu tinggi dirasakan hampir di seluruh wilayah,” katanya.
Surat dari Menteri LHK
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup (LHK) Hanif Faisol Nurofiq menyoroti kualitas udara di sejumlah daerah, termasuk Tangsel dan Depok.
Data IQAir menunjukkan polusi di Serpong pada Rabu (22/10) mencapai angka 155, zona merah.
Hanif mengaku sudah mengirim dua hingga tiga surat ke daerah terdampak untuk menekan sumber polusi.
“Surat itu berisi permintaan pengurangan aktivitas pemicu polusi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kualitas udara dipengaruhi sektor transportasi, industri, dan bahan bakar.
“Standar WHO untuk sulfur 50 ppm, sedangkan kita masih di 1.500 ppm,” katanya.
Menurut pantauan IQAir, Tangsel dan Depok mencatat kualitas udara terburuk kedua dan ketiga di Indonesia setelah Bandung.








Leave a Reply