Anda Harus Tahu! Ini Gejala Terpapar Hantavirus

Adi Subchan - 15 May 2026

Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang memastikan belum ditemukan kasus hantavirus, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan sistem pengawasan di 44 Puskesmas. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang memastikan belum ditemukan kasus hantavirus, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dan sistem pengawasan di 44 Puskesmas. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

Dinkes Tangsel mengimbau masyarakat waspada terhadap Hantavirus yang ditularkan tikus dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.

Aktual Tangerang – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Hantavirus yang dapat memicu gangguan pernapasan berat.

Meski belum ditemukan kasus di Kota Tangerang Selatan, (Tangsel) kewaspadaan dini tetap perlu ditingkatkan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, Hantavirus merupakan penyakit zoonosis dari tikus dan celurut.

Penularan dapat terjadi melalui urine, feses, saliva, maupun debu yang terkontaminasi virus.

“Hantavirus disebabkan Orthohantavirus yang ditularkan tikus dan celurut,” kata Allin di Ciputat, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, Hantavirus memiliki dua bentuk utama, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

Kedua jenis penyakit tersebut memiliki tingkat keparahan berbeda, namun sama-sama berbahaya apabila terlambat ditangani.

Baca Juga :  Waspada! Kasus Hantavirus Ditemukan di Banten

Menurut Allin, HFRS ditandai demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan gangguan fungsi ginjal.

Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami perdarahan akibat gangguan pembuluh darah.

Sementara HPS lebih banyak menyerang sistem pernapasan dan dapat berkembang menjadi sesak napas berat.

“Gejalanya dapat berkembang dari demam hingga gangguan pernapasan berat akibat cairan di paru-paru,” ujarnya.

Allin mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami demam disertai gangguan pernapasan.

Pemeriksaan penting dilakukan, terutama setelah kontak dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi kotoran pengerat.

Ia menuturkan, kewaspadaan meningkat setelah muncul klaster Hantavirus tipe HPS di kapal pesiar internasional. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu penyebaran lintas negara melalui mobilitas manusia.

Di Indonesia, kasus HFRS dilaporkan terjadi di sejumlah provinsi sepanjang 2024 hingga 2026. Sementara kasus HPS belum ditemukan, namun tetap berpotensi terjadi sebagai kasus importasi.

“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dan menjaga perilaku hidup bersih serta sehat,” ucap Allin.

Puskesmas dan Rumah Sakit Siaga

Dinkes Tangsel menyiagakan rumah sakit dan puskesmas untuk mengantisipasi potensi penyebaran Hantavirus. Langkah ini merupakan respons kewaspadaan dini setelah terbitnya Surat Edaran Kementerian Kesehatan terkait penyakit virus Hanta.

Kepala Dinkes Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar menegaskan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus.

“Berdasarkan SKDR dan surveilans penyakit infeksi emerging, belum ditemukan kasus Hantavirus di Tangsel,” kata Allin.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tangsel memperkuat surveilans berbasis indikator dan kejadian melalui SKDR.

Pemantauan juga dilakukan terhadap kasus ISPA, pneumonia, SARI, dan sindrom demam tanpa gejala spesifik.

“Kami meningkatkan deteksi dini di puskesmas dan rumah sakit serta koordinasi lintas sektor,” ujarnya.

Baca Juga :  Pastikan Kesehatan Hewan Kurban, Pemkab Tangerang Kerahkan 96 Petugas

Selain itu, fasilitas kesehatan disiagakan untuk deteksi dini dan penanganan awal pasien suspek Hantavirus. Rumah sakit dan puskesmas juga diminta memastikan kesiapan tenaga kesehatan dan sarana pendukung.

Dinkes Tangsel menyiapkan ruang isolasi sementara untuk mencegah potensi penularan lebih lanjut.

Allin menegaskan, penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) diperketat di seluruh fasilitas kesehatan.

“Tenaga kesehatan wajib menggunakan alat pelindung diri saat menangani pasien suspek,” kata Allin.

Ia menambahkan, koordinasi dengan laboratorium rujukan turut diperkuat untuk pemeriksaan spesimen sesuai standar biosafety.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

“Jangan kontak dengan tikus atau kotorannya, dan jaga kebersihan lingkungan,” pungkas Allin. ***

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini