Permukiman warga di Lebak yang tenggelam muncul kembali akibat surutnya Bendungan Karian. Berpotensi menjadi destinasi wisata baru.
Aktual Tangerang – Fenomena munculnya kembali permukiman yang terendam Bendungan Karian membuka peluang wisata baru di Kabupaten Lebak, Banten.
Kawasan tersebut kini ramai dikunjungi warga yang ingin melihat bekas kampung setelah lima tahun berada di dasar waduk.
Bekas permukiman di Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, kembali terlihat akibat penyusutan debit air Bendungan Karian selama musim kemarau.
Rumah warga, jalan kampung, sawah, ladang, hingga bangunan masjid kembali muncul setelah lama terendam.
Kepala Desa Sukarame, Asep Sahrudin, mengatakan fenomena itu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum pengembangan wisata berbasis air di Bendungan Karian.
“Karena potensi Bendungan Karian ini wisata air, ke depan bisa kuliner. Mudah-mudahan bisa dikelola desa melalui Pokdarwis,” kata Asep, Rabu (5/8/2026).
Asep menilai pengelolaan kawasan sebagai destinasi wisata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Wisata Bendungan Karian juga dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi warga sekitar.
“Mudah-mudahan ini bisa menciptakan mata pencaharian baru masyarakat, terutama di sektor wisata,” ujarnya.
Asep menjelaskan, sebanyak 514 rumah yang dihuni sekitar 2.000 jiwa direlokasi saat Bendungan Karian mulai digenangi.
Luas lahan Desa Sukarame yang terdampak genangan diperkirakan mencapai 20 hektare.
Menurutnya, pemerintah desa turut mengarahkan proses relokasi agar warga tidak terpencar ke banyak wilayah.
“Warga pindah sendiri. Tetapi memang kami pihak desa ikut terlibat mengarahkan supaya tidak terpecah ke beberapa desa. Ada yang ke sebelah barat, ada juga yang ke sebelah timur,” katanya.
Meski berpindah tempat tinggal, warga tetap mempertahankan identitas kampung asal mereka.
Nama Somang masih digunakan di sejumlah permukiman baru, seperti Somang Cigodang, Somang Kadubongkok, Somang Bangkalok, dan Somang Baru.
“Jadi nama Somangnya tidak dihilangkan. Misalnya ini Somang Baru,” ujarnya.
Kemunculan kembali permukiman lama juga membangkitkan kenangan bagi warga yang pernah tinggal di kawasan tersebut.
Banyak warga datang untuk mengenang masa kecil sekaligus melihat kondisi kampung yang sempat tenggelam.
Pengunjung dari luar Kecamatan Sajira juga berdatangan untuk menyaksikan fenomena tersebut secara langsung.
“Karena itu kenangan masa kecil, tentu masyarakat merasa senang melihat kampungnya yang lama terendam air,” katanya.
“Itu juga banyak dikunjungi wisatawan karena ingin melihat permukiman warga yang muncul kembali,” tambahnya. (*)









Leave a Reply