BPBD Banten mencatat 415 titik rawan kekeringan hingga Agustus 2026. Pandeglang menjadi wilayah terbanyak, sementara ribuan warga mulai kesulitan air bersih.
Aktual Tangerang – Memasuki puncak musim kemarau hingga Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memetakan 415 titik rawan kekeringan. Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah dengan potensi kekeringan terbanyak di Banten.
Berdasarkan data BPBD Banten, Kota Tangerang menjadi satu-satunya daerah yang tidak masuk dalam peta kerawanan kekeringan. Sementara itu, titik rawan tersebar di tujuh kabupaten dan kota.
Rinciannya meliputi Kabupaten Pandeglang sebanyak 111 titik, Kabupaten Lebak 109 titik, Kabupaten Tangerang 101 titik, Kabupaten Serang 64 titik, Kota Tangerang Selatan 14 titik, Kota Serang 12 titik, serta Kota Cilegon empat titik.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan dampak El Nino diperkirakan lebih dulu dirasakan wilayah pesisir utara Banten.
“Wilayah yang paling berpotensi terdampak berada di bagian utara Banten, mulai dari Kabupaten Serang hingga kawasan Tangerang Raya,” kata Lutfi, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, sektor pertanian dan ketersediaan air bersih menjadi dua sektor paling rentan selama musim kemarau.
“Sektor pertanian menjadi yang paling rentan karena lahan persawahan diperkirakan mengalami kekeringan,” ujarnya.
Selain kekeringan, BPBD juga mewaspadai meningkatnya potensi kebakaran hutan, lahan, dan permukiman. Ancaman karhutla diperkirakan paling tinggi di wilayah Banten Selatan.
Sementara itu, kebakaran permukiman berpotensi meningkat di kawasan padat penduduk Tangerang Raya.
“Kalau kebakaran itu kebanyakan lahan, ada di wilayah Banten Selatan. Untuk wilayah perkotaan, kebakaran permukiman itu diprediksi terjadi di Tangerang Raya,” ungkapnya.
Lutfi mengatakan, hingga kini baru Pemkab Pandeglang yang mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada BPBD Provinsi Banten.
Permohonan tersebut berupa dukungan satu unit mobil tangki untuk melayani warga Kecamatan Sindangresmi yang terdampak kekeringan.
“Satu bulan ke depan kita mem-back up pengiriman air bersih di wilayah Pandeglang melalui kolaborasi dengan BPBD Kabupaten Pandeglang,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, BPBD Banten telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, kepolisian, serta instansi terkait.
Koordinasi dilakukan untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, dan distribusi air bersih kepada masyarakat.
Di sektor pertanian, BPBD menggandeng Dinas Pertanian menyiapkan pompa air guna membantu irigasi lahan yang mulai mengering.
“Armada tangki milik BPBD Provinsi masih terbatas, yakni hanya empat unit. Tapi kekurangan ini akan ditutupi oleh total 150 unit armada tangki gabungan milik BPBD kabupaten dan kota,” jelas Lutfi.
BPBD juga mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Jangan buang puntung rokok sembarangan, jangan membakar sampah tanpa pengawasan, kemudian hindari pembakaran lahan. Kalau memang terpaksa dilakukan, pastikan benar-benar ditunggu sampai api padam,” paparnya. (*)








Leave a Reply