Secangkir Harapan: Tukang Kopi Naik Haji Setelah Menabung 13 Tahun
Tangerang – Di sudut kecil kampung Mekar Asri Dua, Panongan, ada aroma perjuangan yang tak kalah harum dari kopi yang diseduh setiap pagi. Namanya Marwan Ibrahim, seorang pria sederhana berusia 53 tahun.
Hari-harinya ia habiskan mendorong gerobak kopi keliling, menawarkan secangkir hangat kepada siapa pun yang singgah. Namun siapa sangka, dari balik kesederhanaan itu, tersimpan mimpi yang selama 13 tahun ia sematkan kuat dalam hati.
Menempuh rukun islam ke-enam yaitu pergi ke tanah suci. Marwan jadi sebuah dongeng nyata bahwa ada seorang tukang kopi naik haji.
Seruput Demi Seruput, Untuk Sebuah Impian
Dari segelas kopi hangat, jadi perjalanan ke tanah suci sebuah puncak nikmat. Tahun 2013, Marwan pertama kali mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji.
Sejak itu, setiap rupiah dari hasil jualan kopinya ia sisihkan. Tak peduli berapa pun jumlahnya, ia percaya kekuatan rezeki.
Ia menabung dari tangan sendiri, dari keringat yang jujur, akan sampai ke tujuan jika disertai niat dan sabar. “Rezeki saya memang tak besar, tapi saya punya mimpi. Dan saya jaga mimpi itu baik-baik, seperti saya jaga rasa kopi yang saya jual,” ucap Marwan, menatap langit pagi.
Cerita Tukang Kopi Naik Haji seperti Marwan tak hanya menyentuh, tapi juga membangkitkan harapan. Bahwa keberangkatan ke Baitullah tak selalu milik mereka yang berkecukupan. Tapi juga milik mereka yang bersungguh-sungguh.
Persiapan Fisik, Ibadah, dan Jiwa
Menjelang hari keberangkatan, Marwan rutin berjalan kaki keliling kampung setiap pagi. Kadang, ia ikut senam lansia bersama warga RT. “Saya ingin saat thawaf nanti, kaki saya tetap kuat. Saya gak mau bolong ibadah karena fisik saya lemah,” tuturnya pelan.
Semangat Tukang Kopi Naik Haji ini menyentuh banyak hati. Tak sedikit tetangganya yang memberi dukungan mulai dari mengurangi beban pekerjaan rumah hingga menyumbang sedikit demi sedikit demi mempercepat keberangkatannya.
Keluarga: Penopang di Balik Layar
Di balik Marwan yang selalu tersenyum, ada keluarga yang tak pernah lelah mendorong. Istri dan anak-anaknya turut hidup hemat, tak pernah mengeluh jika ayah mereka menyimpan lebih banyak uang di tabungan haji dibanding belanja bulanan.
“Kami semua tahu ini bukan hanya cita-cita Bapak, tapi impian kami bersama,” kata putri bungsunya.
Doa yang Kini Diijabah
Kini, tinggal hitungan hari sebelum Marwan mengenakan pakaian ihram dan menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tangis bahagia tak bisa ia bendung.
Bukan karena akhirnya ia bisa pergi, tapi karena selama 13 tahun terakhir, ia tak pernah sekalipun kehilangan keyakinan. “Cuma satu yang saya minta dari Allah: beri saya kesempatan mencium Hajar Aswad. Dan sekarang… doa itu dikabulkan,” ucap Marwan, matanya basah menahan haru.
Kisah Tukang Kopi Naik Haji ini bukan sekadar berita, tapi potret harapan yang hidup di antara kita. Tentang bagaimana cita-cita yang besar bisa tumbuh dari langkah kecil yang dijalani dengan sabar.
Karena sejatinya, setiap langkah menuju Baitullah dimulai dari satu titik: niat yang tulus.
Sumber: Okezone
Terus kunjungi website kita di AktualTangerang.com untuk lebih banyak lagi artikel seputar Tangerang Raya dan Nasional. Jangan lupa follow akun sosial media di Instagram dan Tiktok











Leave a Reply