Tes Bintara Curang, Pakai Chat GPT

admin - 15 May 2025

086401000_1746015550-WhatsApp_Image_2025-04-30_at_17.16.13

Kecurangan Seleksi Bintara Polri di Sulsel: Oknum Polisi Gunakan ChatGPT untuk Bantu Casis

Tangerang – Proses seleksi penerimaan Bintara Polri kembali tercoreng dengan munculnya dugaan kecurangan seleksi Bintara di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejumlah oknum polisi muda berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) yang bertugas sebagai pengawas ujian diduga membantu calon siswa (casis) dengan cara yang tidak semestinya. 

Bahkan, kecurangan ini melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti Chat GPT.

Modus Kecurangan Gunakan Chat GPT

Menurut laporan dari Liputan6.com, Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabid Propam) Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham Efendi, mengungkapkan bahwa bentuk kecurangan kali ini berbeda dari kasus-kasus sebelumnya yang sering melibatkan percaloan dari pihak luar.

“Bukan membocorkan soal, tetapi pengawas kelas yang memberikan jawaban langsung kepada peserta. Mereka adalah Bripda yang baru lulus dan langsung bertugas sebagai pengawas,” ujar Zulham, Selasa (13/5/2025).

Lebih lanjut, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, mengungkapkan bahwa para pengawas tersebut menggunakan Chat GPT untuk mencari jawaban soal ujian yang berbasis Computer Assisted Test (CAT). Jawaban tersebut kemudian disampaikan kepada casis tertentu selama ujian berlangsung.

“Ini bukan praktik joki. Tapi pengawas kelas mencari jawaban melalui Chat GPT, lalu memberikannya kepada peserta. Ini pola baru yang perlu kami waspadai,” jelas Didik.

Tindakan Tegas: Diskualifikasi dan Pemeriksaan Etik

Atas kejadian tersebut, Polda Sulsel langsung mengambil tindakan tegas. Para pengawas yang terlibat dalam kecurangan seleksi Bintara ini telah diperiksa secara internal oleh Bidang Propam atas dugaan pelanggaran etik dan disiplin.

Sementara itu, para calon siswa yang terbukti menerima bantuan jawaban dengan cara ilegal langsung didiskualifikasi dari proses seleksi.

Baca Juga :  Warga Lebak Tak Bayar Pajak Kendaraan

“Proses pelanggaran kode etik dan disiplin sedang berjalan. Untuk casis yang menerima bantuan, kami diskualifikasi. Namun, detail kasus masih dalam tahap pengembangan,” kata Zulham.

Ancaman Integritas dan Solusi Pencegahan

Kecurangan seperti ini tidak hanya mencederai semangat keadilan dalam rekrutmen Polri, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. Kasus ini menjadi peringatan keras akan potensi penyalahgunaan teknologi seperti AI dalam proses seleksi yang seharusnya objektif dan transparan.

Sebagai langkah ke depan, perlu ada pengawasan yang lebih ketat, pelatihan etik bagi pengawas seleksi, dan pemanfaatan teknologi yang aman dan terkendali untuk mencegah penyalahgunaan di kemudian hari.

Sumber: Liputan6.com 

Terus kunjungi website kita di AktualTangerang.com untuk lebih banyak lagi artikel seputar Tangerang Raya dan Nasional. Jangan lupa follow akun sosial media di Instagram dan Tiktok

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini