Warga Tangerang bisa Saksikan Fenomena Alam Blood Moon, kapan?

Adi Subchan - 06 September 2025

BMKG catat puncak gerhana bulan pukul 18.33 WIB. Bulan tampak merah, bisa disaksikan langsung atau via streaming resmi. (Foto: Reuters/Ilustrasi)
BMKG catat puncak gerhana bulan pukul 18.33 WIB. Bulan tampak merah, bisa disaksikan langsung atau via streaming resmi. (Foto: Reuters/Ilustrasi)

TANGERANG – Fenomena gerhana bulan total atau Blood Moon diprediksi akan kembali terlihat di langit Indonesia pada 7-8 September 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut peristiwa astronomi langka ini dapat diamati hampir di seluruh wilayah Tanah Air, baik secara langsung maupun melalui siaran daring.

Jadwal dan Puncak Gerhana

Gerhana akan dimulai pada Minggu (7/9/2025) malam. Fase awal berupa gerhana penumbra (P1) terjadi sekitar pukul 21.00 WIB atau 22.00 WITA. Selanjutnya, fase gerhana sebagian (U1) dimulai pukul 22.00 WIB atau 23.00 WITA.

Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada Senin (8/9/2025) dini hari pukul 01.30 WIB, 02.30 WITA, atau 03.30 WIT, tergantung zona waktu masing-masing. Fenomena ini akan berakhir sekitar pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA.

Bisa Disaksikan di Seluruh Indonesia

BMKG menyatakan, seluruh wilayah Indonesia bisa menyaksikan fenomena Blood Moon, meski dengan penyesuaian waktu. Pengamat di wilayah Waktu Indonesia Barat (WIB) dapat melihat puncak gerhana sekitar pukul 01.30 WIB, disusul Waktu Indonesia Tengah (WITA) pukul 02.30 dan WIT pukul 03.30.

Agar pengalaman lebih maksimal, disarankan mengamati dari lokasi dengan langit cerah dan minim polusi cahaya.

Baca juga:

Fasilitas Pengamatan dan Live Streaming

Planetarium Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM) berencana menggelar pengamatan publik pada malam 7 hingga dini hari 8 September. Selain itu, BMKG juga menyiarkan fenomena ini secara langsung melalui kanal YouTube resminya, sehingga masyarakat bisa menyaksikan dari rumah.

Mengapa Disebut Blood Moon?

Julukan Blood Moon muncul karena Bulan akan tampak merah pekat atau oranye saat gerhana total. Warna ini muncul akibat cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami pembiasan.

Baca Juga :  Campur Minyak Kayu Putih, BBM Jadi Irit?

Gelombang cahaya biru dan ungu tersaring di atmosfer, sementara cahaya merah-oranye diteruskan dan mengenai permukaan Bulan.

Efek optik ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh, sehingga Bulan tampak seolah diselimuti cahaya merah seperti darah. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini