Kepergian Lucky Element menyoroti beratnya hidup pasien gagal ginjal kronis yang bergantung pada terapi cuci darah.
Aktual Tangerang – Vokalis band Element, Lucky Widja, meninggal dunia pada Minggu, 25 Januari 2026. Lucky berpulang setelah berjuang melawan gangguan ginjal kronis.
Penyakit tersebut memaksanya menjalani terapi cuci darah secara rutin.
Kabar duka itu pertama kali disampaikan rekan satu bandnya, Ferdy Tahier. Informasi tersebut dibagikan Ferdy melalui unggahan media sosial pribadinya.
“Lucky sudah lama berjuang dengan kesehatannya dan rutin menjalani cuci darah,” tulis Ferdy.
Ia juga menyebut Lucky sempat menggunakan bantuan oksigen dalam beberapa tahun terakhir.
Derita Pasien Tuberkulosis Ginjal
Sebelum wafat, Lucky diketahui mengidap tuberkulosis ginjal sejak 2022. Penyakit langka itu menyerang hampir seluruh saluran kemih.
Kondisi tersebut menyebabkan fungsi ginjal Lucky menurun drastis. Salah satu ginjalnya menyusut, sementara ginjal lainnya mengalami pembengkakan.
Kepergian Lucky menyoroti beratnya hidup pasien gangguan ginjal kronis. Banyak pasien bergantung pada cuci darah sebagai terapi penopang kehidupan.
Gangguan ginjal kronis terjadi saat ginjal gagal menyaring racun dan cairan berlebih. Dalam kondisi lanjut, terapi pengganti ginjal menjadi sangat penting.
Mengutip National Kidney Foundation, hemodialisis merupakan terapi penyelamat nyawa. Terapi ini menggantikan sebagian fungsi ginjal yang telah rusak.
Hemodialisis bekerja dengan mengalirkan darah ke mesin khusus. Mesin tersebut dilengkapi dialyzer atau ginjal buatan.
Sisa metabolisme dan cairan berlebih disaring sebelum darah dikembalikan ke tubuh. Prosedur ini dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Melansir Cleveland Clinic, durasi hemodialisis sekitar tiga sampai empat jam per sesi. Lamanya prosedur tergantung kondisi masing-masing pasien.
Tidak semua penderita gangguan ginjal langsung membutuhkan cuci darah. Terapi ini diperlukan saat fungsi ginjal menurun ke tahap lanjut.
Cuci darah umumnya dijalani pasien gagal ginjal stadium akhir. Pada tahap ini, fungsi ginjal tersisa sekitar 10 hingga 15 persen.
Cuci darah juga diberikan pada gagal ginjal akut berat. Terapi dilakukan bila terjadi penumpukan racun atau gangguan elektrolit berbahaya.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut keputusan cuci darah berdasarkan kondisi klinis pasien. Pertimbangan juga mencakup hasil laboratorium dan gejala yang muncul.
Gejala tersebut meliputi sesak napas, pembengkakan, kelelahan berat, dan mual.
Meski menyelamatkan nyawa, cuci darah memiliki tantangan fisik. Pasien kerap mengalami lelah, pusing, tekanan darah rendah, dan kram otot.
Cuci darah tidak menyembuhkan penyakit ginjal. Terapi ini membantu menjaga keseimbangan tubuh ketika ginjal tak mampu pulih.
Penurunan Kulitas Hidup
Pasien gagal ginjal kronis sering mengalami penurunan kualitas hidup. Gangguan tidur, gatal, sesak napas, dan nafsu makan menurun kerap dialami.
Selain fisik, kondisi mental pasien juga perlu mendapat perhatian.
Depresi dan stres psikologis sering menyertai perjalanan panjang terapi cuci darah.
Deteksi Dini Penyakit Ginjal
Banyak kasus gangguan ginjal baru terdeteksi saat kondisi pasien telah memasuki tahap lanjut.
Tuberkulosis ginjal, seperti dialami Lucky Widja, tergolong penyakit langka dan kerap terlambat dikenali karena gejala awalnya tidak spesifik.
Pemeriksaan fungsi ginjal rutin dan penerapan gaya hidup sehat penting untuk mencegah kondisi yang berujung pada cuci darah jangka panjang. ***











Leave a Reply