Lingkungannya dirancang agar Friedrich bisa tumbuh seimbang, tanpa kehilangan potensi intelektualnya.
Universitas Münster menyatakan bahwa menerima mahasiswa semuda Friedrich adalah langkah yang sangat tidak biasa. Namun, keputusan tersebut diambil setelah evaluasi akademik dan psikologis yang ketat.
Mereka menganggap Friedrich memperkaya suasana kampus dan memberi inspirasi bagi mahasiswa lainnya. Keberadaannya menjadi simbol keragaman dan inklusi di lingkungan pendidikan tinggi.
Bakat tampaknya menurun dalam keluarga Wendt. Adik Friedrich, Richard Wendt, juga dikenal sebagai anak jenius di usia 10 tahun.
Richard tergabung dalam Mensa International setelah mencatat IQ 155. Ia lebih menonjol dalam kecerdasan sosial dan kemampuan beradaptasi dibanding kakaknya.
Julukan “Einstein Kecil”
Friedrich dijuluki “Einstein Kecil dari Münster” oleh media dan dunia akademik. Ia mampu memahami teori tingkat tinggi di usia jauh di bawah rata-rata mahasiswa.
Universitas menyebut Friedrich sebagai bukti bahwa bakat luar biasa bisa datang dari latar belakang mana saja.
Kisah Friedrich menjadi pengingat bahwa kecerdasan tidak mengenal usia atau batas negara. Ia mewakili generasi global masa depan yang tumbuh dalam budaya lintas negara dan disiplin ilmu.
Dengan IQ tinggi, rasa ingin tahu besar, dan dukungan keluarga, Friedrich menembus batas dalam dunia pendidikan.
Pada usia 12 tahun, ia telah menunjukkan bahwa kejeniusan bisa berkembang sejak dini, asal diberi ruang yang tepat.











Leave a Reply