Asal Muasal Penyebutan Tanah Tinggi Kota Tangerang

Syahrul Munir - 13 September 2025

Asal Muasal Tanah Tinggi
Lintasan Kereta Api di Tanah Tinggi Kota Tangerang. (FOTO: TangerangKota)

Sejarah Kota Tangerang menjelaskan asal muasal nama Tanah Tinggi dan kehidupan sosial di era kolonial

Aktual Tangerang – Penamaan daerah Tanah Tinggi, Kota Tangerang ternyata memiliki cerita menarik di era kolonial. Penyematan nama Tanah Tinggi itu mengambil dari kotur tanah kawasan tersebut yang relative tinggi dibanding daerah lain.

Burhanudin dalam bukunya berjudul “Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang” menjelaskan, penyebutan nama Tanah Tinggi diambil dari letak geografisnya yang memiliki kontur tanah relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa daerah lain.

Bukti konkretnya bisa terlilhat langsung dari daerah yang sejak dulu menjadi pusat aktivitas masyarakat era kolonial, seperti di bantaran Sungai Cisadane, Hutan Kota Mookervart dan sekitarnya.

“Tanah Tinggi itu lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya karena kalau melihat dari daerah selatan, kampung itu lebih tinggi sebab kali yang ke arah Jakarta (Mookervart) itu letaknya lebih dalam pada saat melewati kampung ini,” tulis Burhanudin.

Tidak hanya itu, daerah Tanah Tinggi bukan hanya menjadi kawasan kosong tanpa aktivitas masyarakat. Sejak era kolonial, daerah Tanah Tinggi telah menjadi destinasi plesiran favorit masyarakat eropa maupun pribumi.

Berdasarkan catatan yang ada, daerah Tanah Tinggi menjadi lokasi wisata dan destinasi pengisi senja atau plesiran sore. Akses menuju Tanah Tinggi terhubung dengan Mookervart serta kawasannya yang hijau, rindang dan sejuk.

Baca Juga: 

“Pemerintah Hindia Belanda menjadikan pinggiran Tanah Tinggi sebagai salah satu taman atau hutan kota di sisi Mookervart sebagai tempat plesir sore hari. Daerah pinggir sungai (Tanah Tinggi) dibuat seperti hutan yang rindang,” tambahnya.

Baca Juga :  BNN: Tanah Tinggi dan Cipondoh Zona Merah Narkoba

Saat ini, daerah Tanah Tinggi popular sebagai daerah niaga. Adalah Pasar Induk Tanah Tinggi yang telah menjadi pusat belanja sayur-mayur di Tangerang Raya dan sekitarnya. Pasar itu dibangun sejak 2001 silam.

Tempat Pribumi Betawi dan Banten

Adapun letaknya sendiri, daerah Tanah Tinggi dibatasi Kali Mookervart, sekarang Jalan Raya Daan Mogot) di sisi utara dan rel kereta api (Stasiun Tanah Tinggi-Stasiun Batuceper) di sisi selatan.

Dari komposisi penduduk di era kolonial, Tanah Tinggi sudah menjadi hunian pribumi Betawi dan Banten. Mayoritas penduduk asli adalah orang Betawi pinggiran, hasil akulturasi Sunda–Melayu–Jawa. Ada juga komunitas Banten yang bermata pencaharian tani dan nelayan sungai.

Di Tanah Tinggi juga ada komunitas Tionghoa. Tangerang sejak abad ke-17 menjadi pusat komunitas Tionghoa, terutama setelah VOC memberi izin menetap.

Di Tanah Tinggi, mereka berperan dalam perdagangan hasil bumi, pasar, serta pengelolaan gudang. Tak ketinggalan pengaruh Arab dan India-Muslim pun sangat melekat.

Ada jejak pedagang Arab–Gujarat yang memperkuat identitas religius Islam di kawasan ini. Jadi sejak kolonial, Tanah Tinggi dikenal sebagai kawasan multi-etnis dengan interaksi sosial yang kental.

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini