Warga Keranggan, Tangsel, menggelar tradisi ngaliwet di Sungai Cisadane yang surut saat kemarau. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus ruang budaya.
Aktual Tangerang – Tradisi ngaliwet di tengah Sungai Cisadane kembali dilakukan warga Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Tradisi ini muncul ketika debit air sungai menurun pada musim kemarau.
Lokasi kegiatan berada di Gang Cisadane, dekat Kampung Ekowisata Keranggan. Area sungai yang mengering dimanfaatkan warga untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga.
Warga membawa tikar dan aneka makanan dari rumah. Mereka menikmati nasi liwet bersama sambil berbincang dan menikmati suasana sungai.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini telah berlangsung sejak lama. Ngaliwet menjadi bagian dari kehidupan warga yang mengikuti perubahan kondisi Sungai Cisadane.
“Dari kecil memang sudah sering kayak gini. Kami warga sini asli, kalau kemarau sungai surut biasanya ramai kayak gini,” ujar Yani di pinggir Sungai Cisadane, Senin (20/7/2026).
Tradisi tersebut juga menjadi sarana rekreasi keluarga. Anak-anak memanfaatkan sungai untuk bermain dan berenang bersama.
Minar mengatakan, warga selalu menunggu momen sungai surut untuk menikmati alam bersama keluarga.
“Iya pada main, piknik, ngajak anak-anak, berenang juga,” ucap Minar.
Selain mempererat hubungan antarwarga, tradisi ini menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Keranggan. Sungai Cisadane dipandang sebagai ruang sosial yang menyatukan warga lintas generasi.
Dalam kegiatan ngaliwet, warga membawa hidangan sederhana. Menu yang disajikan antara lain nasi liwet, sambal, sayur asem, dan ikan asin.
Namun, tradisi tersebut hanya dapat dilakukan saat musim kemarau. Ketika hujan turun dan debit air meningkat, kawasan sungai kembali tergenang.
“Kalau hujan tidak bisa, banjir, airnya juga tidak jernih,” ujar Astuti.
Di balik tradisi itu, warga juga mulai merasakan dampak kemarau. Sejumlah sumur di sekitar permukiman mengalami penurunan debit air.
Astuti berharap masyarakat menjaga kebersihan Sungai Cisadane. Menurutnya, sungai harus tetap bersih agar bisa terus dimanfaatkan bersama.
“Jaga kebersihan saja, jangan buang sampah ke kali. Kalau bisa dikumpulkan dan dibawa pulang lagi,” pungkasnya. (*)











Leave a Reply