Kerap Banjir, Taman Mangu bakal Jadi Kota Mati

Adi Subchan - 04 May 2026

Banjir yang semakin sering di Taman Mangu Indah, Tangerang Selatan, membuat warga menjual rumah. (Foto: kompas.com)
Banjir yang semakin sering di Taman Mangu Indah, Tangerang Selatan, membuat warga menjual rumah. (Foto: kompas.com)

Banjir yang semakin sering di Taman Mangu Indah Tangsel membuat warga menjual rumah. Ini penyebab dan penjelasannya.

Aktual Tangerang – Spanduk “dijual” berderet di rumah warga Taman Mangu Indah, Pondok Aren, Minggu (3/5/2026).

Fenomena ini muncul seiring banjir yang semakin sering terjadi di kawasan tersebut.

Pantauan di lokasi menunjukkan rumah dekat Kali Ciputat menjadi titik paling terdampak. Sejumlah rumah tampak kosong, sementara lainnya masih dihuni dengan bekas genangan.

Jejak air berwarna coklat terlihat menempel di dinding dan pagar rumah warga. Ketinggian genangan sebelumnya mencapai sekitar 30 sentimeter di beberapa titik.

Kondisi jalan lingkungan juga mengalami kerusakan akibat sering tergenang. Aspal tampak retak, tidak rata, serta ditumbuhi lumut di sejumlah bagian.

Celah jalan disebut menjadi jalur rembesan air saat hujan turun. Permukaan jalan menjadi lembap dan licin, membahayakan aktivitas warga.

Di dalam rumah, perabot ditinggikan untuk menghindari kerusakan akibat banjir.

Baca Juga :  Tempat Rekreasi Gratis, Tiga Taman Baru di Tangsel Resmi Dibuka

Ketua RT 04 RW 12, Imawan Susanto, menyebut frekuensi banjir meningkat drastis. “Sekarang hujan sedikit langsung banjir,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Ia mengatakan, sebelumnya banjir hanya terjadi sekitar lima tahun sekali. “Sekarang setahun bisa beberapa kali,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini mendorong warga menjual rumah dan pindah. Banjir berulang dinilai merusak perabot serta menguras tenaga warga.

Ketua RT 02 RW 12, Sugiyanto, mengingat kondisi kawasan saat 1994. “Dulu tidak seperti sekarang, hujan sedikit langsung banjir,” ujarnya.

Ia menyebut Jalan Ceger Raya kini ikut tergenang saat hujan turun. Sugiyanto menduga perubahan aliran Kali Ciputat menjadi salah satu penyebab.

“Perumahan makin banyak, penyerapan air berkurang,” katanya.

Ia juga menyoroti dugaan pendangkalan sungai yang belum dinormalisasi. “Mungkin perlu pengerukan dan normalisasi kembali,” ujarnya.

Meski tanggul ditinggikan, air masih kerap merembes ke permukiman. Warga berharap ada penanganan banjir yang lebih menyeluruh.

Ketua Pansus RTRW DPRD Tangsel Ahmad Syawqi menyoroti perubahan aliran sungai.

“Perubahan aliran berdampak ke Pondok Aren dan sekitarnya,” ujarnya.

Temuan tersebut didapat saat inspeksi lapangan terkait tata ruang. Ia menyebut terdapat perubahan aliran sungai di badan Kali Ciputat. “Debit air meningkat saat curah hujan tinggi,” katanya.

Salah satu aliran sungai diduga tidak lagi berfungsi optimal. Aliran tersebut disebut beralih sejak 2011 dari jalur semestinya.

Baca Juga :  Atasi Polusi Udara di Tangsel, Pembakar Sampah Didenda Rp50 Juta

Pansus DPRD telah memanggil pihak pengembang Mal Bintaro Xchange untuk klarifikasi. Dokumen terkait perubahan aliran masih dalam proses pengumpulan.

Perwakilan PT Jaya Real Property Tbk (JRP) menyatakan siap kooperatif. “Kami akan kooperatif dalam proses selanjutnya,” ujar Virona Pinem.

Pengamat tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, menilai masalah lebih kompleks. “Perubahan ruang yang merugikan bisa dikenai sanksi,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pembuktian atas dugaan perubahan aliran. Menurutnya, berkurangnya resapan meningkatkan limpasan air ke sungai. “Debit air besar sering tidak diperhitungkan,” katanya.

Ia menilai fakta lapangan harus menjadi dasar evaluasi kebijakan. “Kalau terjadi bencana, itu menjadi bukti nyata,” ujarnya.

Yayat mendorong penyelidikan menyeluruh melibatkan berbagai pihak. Ia menyebut jalur hukum terbuka jika ditemukan pelanggaran. ***

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini