Dinkes Kabupaten Tangerang menemukan 5.101 kasus TBC selama Januari-Juni 2026. Mauk, Sepatan, dan Sukadiri mencatat temuan kasus terbanyak.
Aktual Tangerang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang menemukan 5.101 kasus tuberkulosis (TBC) selama Januari hingga Juni 2026.
Kasus tersebut terdeteksi melalui layanan kesehatan dan skrining aktif di berbagai wilayah.
Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan deteksi dini terus diperkuat. Langkah itu bertujuan mempercepat pengobatan dan mencegah penularan TBC.
“Dari Januari sampai Juni 2026, total ada 5.101 kasus TBC di Kabupaten Tangerang,” kata Hendra, Senin (27/7/2026).
Pemkab Tangerang memperkuat penemuan kasus aktif untuk mendukung target eliminasi TBC pada 2030.
Pelaporan kasus juga disesuaikan dengan angka prevalensi per 100.000 penduduk. Kebijakan itu diharapkan membuat pemetaan dan intervensi semakin tepat sasaran.
Hendra menyebut Kecamatan Mauk, Sepatan, dan Sukadiri mencatat temuan kasus TBC terbanyak. Namun, tingginya temuan kasus bukan berarti penanganan di wilayah tersebut buruk.
Menurut Hendra, banyaknya kasus menunjukkan sistem deteksi berjalan lebih efektif.
“Mauk, Sepatan, dan Sukadiri merupakan wilayah dengan temuan paling banyak,” ujarnya.
“Namun, berdasarkan arahan Kementerian Kesehatan, daerah yang menemukan kasus terbanyak memiliki kinerja deteksi yang baik,” lanjutnya.
Ia menjelaskan pasien yang terdeteksi lebih cepat dapat segera menjalani pengobatan. Langkah itu mampu menekan risiko penularan kepada keluarga dan masyarakat.
Hendra menambahkan, kualitas skrining sangat memengaruhi jumlah kasus yang ditemukan.
Skrining berbasis gejala saja berisiko melewatkan penderita tanpa keluhan. Akibatnya, penularan penyakit dapat terus berlangsung tanpa disadari.
Mayoritas Penderita Usia Produktif
Data Dinkes menunjukkan mayoritas pasien TBC berusia 18 hingga 55 tahun. Selama semester pertama 2026, petugas juga menemukan dua kasus pada balita.
Hendra mengatakan penularan paling banyak terjadi melalui kontak erat. “Kebanyakan karena terpapar dari keluarga atau orang dekat,” katanya.
Karena itu, pelacakan terhadap anggota keluarga menjadi prioritas penanganan.
Dinkes terus melakukan pencarian kasus melalui skrining masyarakat. Pemeriksaan juga menyasar kontak erat pasien sesuai standar diagnosis.
Dalam hal ini, Pemkab melibatkan puskesmas, rumah sakit, klinik, tenaga kesehatan, dan kader masyarakat.
“Saat ini pencarian kasus masih terus dilakukan secara aktif,” ujar Hendra. “Agar TBC ditemukan sedini mungkin, kemudian dilanjutkan pengobatan dan pemeriksaan kontak erat,” lanjutnya.
Orang yang berisiko akan menjalani pemeriksaan lanjutan. Mereka juga dapat memperoleh terapi pencegahan sesuai ketentuan.
Puskesmas turut memantau kepatuhan pasien mengonsumsi obat TBC.
Edukasi dan Pencegahan Ditingkatkan
Dinkes memperluas edukasi mengenai gejala dan penularan TBC. Masyarakat juga diingatkan pentingnya menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.
Warga dengan batuk berkepanjangan diminta segera memeriksakan diri.
Pemeriksaan juga dianjurkan bagi warga yang mengalami penurunan berat badan. Gejala lain meliputi demam dan keringat malam.
Orang dengan riwayat kontak erat juga diminta menjalani pemeriksaan.
Dinkes memberikan terapi pencegahan kepada kelompok berisiko tinggi. Upaya tersebut dilakukan untuk memutus rantai penularan TBC.
Pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat program penanggulangan TBC.
Langkah itu meliputi peningkatan skrining, akurasi data, ketersediaan obat, dan dukungan anggaran. (*)








Leave a Reply