Warga Tolak SMPN 25 Tangsel, Akses Sekolah Cuma 4 Meter

Adi Subchan - 12 September 2026

Pembangunan SMPN 25 Tangsel di Bukit Nusa Indah ditolak warga. Pemkot membuka ruang dialog untuk membahas kajian dan dampaknya. (FOTO: sindonews.com)
Pembangunan SMPN 25 Tangsel di Bukit Nusa Indah ditolak warga. Pemkot membuka ruang dialog untuk membahas kajian dan dampaknya. (FOTO: sindonews.com)

Warga RW 16 mempersoalkan pembangunan SMPN 25 Tangsel berkapasitas 1.000 siswa. Akses menuju lokasi hanya sekitar empat meter.

Aktual Tangerang – Rencana pembangunan SMP Negeri 25 Tangerang Selatan di Bukit Nusa Indah dipersoalkan warga RW 16. Sekolah tersebut direncanakan menampung sekitar 1.000 siswa di tengah kawasan permukiman.

Warga menilai rencana itu berisiko menimbulkan persoalan lalu lintas karena akses menuju lokasi hanya sekitar empat meter.

Ketua RT 03 RW 016, Triyuni Damayanti, menegaskan warga tidak menolak pembangunan fasilitas pendidikan.

Menurutnya, keberatan warga berkaitan dengan pemilihan lokasi yang dinilai tidak sesuai kondisi lingkungan.

“Kita enggak menolak atau anti pendidikan. Justru kita mendukung untuk mencerdaskan anak bangsa,” ujar Triyuni, Jumat (11/9/2026).

Triyuni mengatakan pembangunan sekolah tetap harus mempertimbangkan ketentuan dan kondisi lingkungan sekitar. Warga mempertanyakan pembangunan sekolah berkapasitas besar di lahan tengah kawasan permukiman RW 16.

“Silakan aja kalau misalnya, apalagi katanya ada wacana dibikin sekolah unggulan. Dengan persyaratan ketentuan itu sudah memang tidak masuk ketentuan, enggak ideal,” ucapnya.

Baca Juga :  Pemkot Tangsel Siapkan Normalisasi Sungai Atasi Banjir Setu

Akses Jalan Dinilai Tidak Memadai

Selain luas lahan dan kapasitas sekolah, warga menyoroti akses jalan menuju lokasi pembangunan.

Lebar jalan menuju kawasan tersebut disebut hanya sekitar empat meter. Kondisi tersebut membuat kendaraan sulit berpapasan dengan nyaman.

“Jangankan bus, dua mobil aja saling berpapasan itu sudah susah,” ujar Triyuni.

Kekhawatiran warga semakin besar karena kapasitas sekolah direncanakan mencapai sekitar 1.000 siswa.

Warga memprediksi kepadatan kendaraan terjadi saat jam masuk dan pulang sekolah. Kendaraan siswa akan bercampur dengan kendaraan warga yang keluar-masuk kawasan permukiman.

Persoalan akses tersebut turut dibahas dalam mediasi warga dengan Pemkot Tangsel. Mediasi tersebut berlangsung pada Sabtu (5/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Dinas Perhubungan disebut menawarkan shuttle bus untuk mengatasi mobilitas siswa. Namun, opsi tersebut belum menjawab kekhawatiran warga terkait kapasitas jalan.

Triyuni mempertanyakan kemampuan shuttle bus melintas di jalan selebar sekitar empat meter.

“Enggak memadai dengan lebar jalan cuma empat meter. Shuttle bus berapa meter sih? Tambah misal ada mobil lagi, mobil dari warga masuk,” ujarnya.

Baca Juga :  ASN Pemkot Tangsel bakal Gigit Jari, Pencairan Gaji Ditunda

Warga Minta Andalalin Diperhatikan

Menurut Triyuni, persoalan lalu lintas tidak hanya berasal dari kendaraan siswa. Kendaraan guru, orangtua, operasional sekolah, dan warga juga akan menggunakan jaringan jalan yang sama.

Karena itu, warga meminta analisis dampak lalu lintas (Andalalin) diperhatikan secara serius. Mereka meminta kondisi akses jalan menjadi pertimbangan sebelum pembangunan sekolah dilanjutkan.

Warga tidak ingin penyelesaian lalu lintas hanya mengandalkan pengaturan kendaraan setelah sekolah beroperasi.

Dalam mediasi tersebut, warga RW 16 kembali menyampaikan penolakan terhadap pembangunan sekolah.

Triyuni mengatakan pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang membuat warga menerima pembangunan SMPN 25.

Warga kemudian meminta hasil pertemuan dituangkan dalam notulen yang ditandatangani pihak terkait.

Menurut Triyuni, notulen tersebut mencatat sikap warga yang tetap menolak pembangunan sekolah.

Sementara itu, pemerintah disebut masih akan menyampaikan hasil pembahasan kepada wali kota.

Dalam pertemuan tersebut juga muncul kemungkinan pencarian lokasi alternatif pembangunan sekolah. Namun, belum ada keputusan final mengenai lokasi alternatif tersebut.

“Katanya sih mau disampaikan dulu ke wali kota. Jadi belum ada keputusan apa-apa,” ujar Triyuni.

Warga Usulkan Ruang Terbuka Hijau

Bagi warga RW 016, persoalan pembangunan SMPN 25 bukan sekadar kebutuhan fasilitas pendidikan. Mereka mempertanyakan keamanan dan kenyamanan sekolah berkapasitas sekitar 1.000 siswa.

Terlebih, sekolah tersebut direncanakan berdiri di tengah permukiman dengan akses jalan sekitar empat meter.

Warga berharap lahan tersebut dapat dipertimbangkan untuk fungsi lain. Beberapa opsi yang diusulkan adalah ruang terbuka hijau (RTH) atau lapangan olahraga. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini