Pembangunan Hutan Bambu Cisoka senilai Rp1,8 miliar menuai sorotan warga. Proyek diklaim bertahap dan berorientasi ekonomi.
Aktual Tangerang – Pembangunan Hutan Bambu di Desa Bojong Loa, Cisoka, Kabupaten Tangerang, menuai pro dan kontra masyarakat.
Proyek senilai Rp1,8 miliar tersebut viral dan ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warga menilai pembangunan Hutan Bambu belum mendesak dan berpotensi pemborosan anggaran.
Warga mempertanyakan urgensi proyek di tengah kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, proyek masih dalam tahap awal pengerjaan. Pekerjaan terlihat sebatas pengurukan dan perataan tanah di area proyek. Tidak tampak aktivitas pekerja maupun alat berat di kawasan Hutan Bambu.
Papan informasi proyek terlihat roboh dan masuk ke saluran air dekat pintu masuk. Papan tersebut mencantumkan proyek milik Pemkab Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
Diketahui, nilai anggaran proyek tercatat Rp1.805.120.026 yang bersumber dari APBD 2025. Proyek dikerjakan oleh CV Putra Kosambi Jaya dengan masa kerja 90 hari kalender.
Paket pekerjaan juga tercantum dalam laman SPSE Kabupaten Tangerang.
Nama paket tercatat sebagai Pembangunan Hutan Bambu Cisoka, diumumkan pada 15 Agustus 2025.

Penjelasan Camat Cisoka
Camat Cisoka Sumartono mengatakan proyek Hutan Bambu masih tahap awal pengerjaan. Ia menyebut pembangunan dilakukan bertahap dengan tujuan jangka panjang.
“Pembangunan dilakukan tiga tahap dan fokus awal pemerataan lahan serta pengendalian air,” kata Sumartono, Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan lokasi proyek merupakan jalur aliran air dari kawasan perumahan.
Hutan Bambu dirancang sebagai ruang terbuka publik yang dapat diakses gratis masyarakat.
Proyek tersebut juga diharapkan meningkatkan perekonomian warga sekitar. “Ini bukan sekadar ruang hijau, tetapi ruang publik penggerak ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Sumartono menyebut wilayah Cisoka memiliki potensi bambu yang menjadi ciri khas daerah. Sekitar 27 hingga 28 persen wilayah Cisoka ditumbuhi tanaman bambu. Hutan Bambu diharapkan menghidupkan kembali ekonomi warga Kampung Janur.
Kampung Janur dikenal memiliki keterampilan menganyam bambu sejak lama. “Masyarakat sudah terbiasa membuat anyaman, tinggal dikembangkan menjadi UMKM,” jelasnya.
Kawasan Hutan Bambu nantinya dilengkapi berbagai fasilitas publik. Fasilitas meliputi jalur joging, saung bambu, area pertunjukan, dan penerangan kawasan.
Selain itu, tersedia spot swafoto dan danau dengan air mancur di tengah kawasan.
Sumartono menargetkan pembangunan keseluruhan rampung pertengahan 2026.
“Setelah selesai, kawasan ini menjadi ruang publik dan penggerak ekonomi lokal,” pungkasnya.








Leave a Reply