Kampung Dadap di Tangerang terendam rob setiap hari. Warga terpaksa meninggikan rumah. Ahli menyebut reklamasi dan penurunan tanah memperburuk kondisi.
Aktual Tangerang – Di tengah pesatnya pembangunan kawasan elit PIK, Kampung Dadap justru menghadapi ancaman serius. Wilayah seluas 14,5 hektare itu nyaris tenggelam akibat rob harian.
Kampung Dadap berbatasan dengan PIK, Kamal, dan Kamal Muara. Kawasan ini dihuni tiga RW, yaitu RW 01, RW 02, dan RW 03. Di RW 03 terdapat sekitar 800 keluarga dengan total hampir 1.000 bangunan.
Untuk bertahan, warga meninggikan bagian depan rumah memakai semen. Upaya itu dilakukan agar air laut tidak langsung masuk. Namun rob tetap menggenangi kampung setiap hari.
“Sudah lebih tiga bulan begini. Pasangnya makin sering,” ujar Ketua RW 03 Jamal seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (24/11/2025).
Rob biasanya menggenang sepanjang Jembatan Cinta hingga ujung kampung. Jaraknya sekitar dua kilometer dengan tinggi air 30–50 sentimeter. Air berubah cokelat hingga hitam karena bercampur lumpur dan air selokan.
Air Datang Mendadak
Kasturi, warga setempat, mengatakan rob kerap datang mendadak. “Jumat itu air langsung besar masuk rumah,” tuturnya.

Ia sering mengungsikan anaknya karena takut air datang tanpa peringatan. Setiap hari ia harus membersihkan lumpur sisa genangan.
“Kalau banjir malam, kami mengeruk lumpur sejak jam tiga pagi,” katanya.
Dua bangunan di depan rumahnya telah hancur dan ditinggalkan pemiliknya. “Banyak rumah rusak dan ditinggalkan karena rob terus,” ucapnya.
Aktivitas Warga Terganggu
Menurut Siswanto, rob makin parah bila terjadi hujan dan kiriman air bandara.
“Kalau pasang dan ada kiriman air, bisa sampai sepaha,” ujarnya.
Warga yang belum meninggikan rumah langsung terdampak. Sebagian harus berjalan di atas tanggul empat meter untuk keluar rumah.
Siswanto sering kesulitan berangkat kerja saat rob. “Kami kadang menerobos banjir dulu lalu naik angkutan umum,” katanya.

Reklamasi Dinilai Memperburuk Kondisi
Siswanto mengatakan rob memburuk dalam satu dekade terakhir.
“Mulai parah setelah pembangunan pergudangan dan reklamasi,” ujarnya.
Menurutnya, reklamasi membuat arus laut berubah dan masuk ke permukiman.
Sekjen KIARA, Susan Herawati, menyebut kondisi Dadap mirip Timbulsloko. Ia menjelaskan perubahan arus terjadi akibat penimbunan pesisir.
“Reklamasi tiga tahun terakhir memicu perubahan arus,” kata Susan.
Ia menegaskan rob bukan hanya fenomena alam, tetapi akibat aktivitas manusia.
Penurunan Tanah Perburuk Rob
Peneliti BRIN, Budi Heru Santosa, menyebut penurunan tanah sebagai faktor besar.
“Pesisir Tangerang mengalami penurunan tanah karena lapisan aluvial,” ujarnya.
Penurunan tanah membuat daratan lebih rendah dari air laut saat pasang. Ia menyebut perubahan iklim turut menaikkan muka air laut.
Dalam beberapa tahun, kombinasi penurunan tanah dan kenaikan air laut akan terasa signifikan.
Tanggul Dinilai Tak Efektif
Tanggul yang dibangun pada 2024 kini dinilai tidak efektif. “Tanggul ikut turun ketika tanah turun,” ujar Budi.
Ia memberi contoh tanggul satu meter menjadi turun 50 cm dalam lima tahun. Kondisi itu membuat air mudah meluap ke daratan.
Ia menyarankan pembangunan sistem polder terpadu. Sistem itu meliputi tanggul keliling, kolam retensi, dan pompa air.
Budi juga menyebut kemungkinan restorasi alami. “Penanaman mangrove dapat membantu menahan laju air laut,” ujarnya.
Langkah Pemerintah Daerah
Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, menyebut sejumlah langkah telah dilakukan.
“ABT 2025 digunakan untuk membangun pintu air di saluran Duta Bandara,” katanya.
Ia mengatakan pemerintah akan membangun stasiun pompa pada 2026. Normalisasi kolam retensi juga dijadwalkan.
Untuk Taman Dadap Indah, pemerintah melakukan pengerukan manual drainase.
Terkait tanggul laut, koordinasi masih berjalan dengan Kementerian PUPR.








Leave a Reply