Tangsel Darurat ISPA, Kasusnya Tembus 124.688

Adi Subchan - 14 August 2026

ILUSTRASI - Kasus ISPA di Kota Tangsel mencapai 124.688 hingga pekan ke-30 2026. Dinkes mengimbau warga waspada terhadap dampak cuaca panas dan musim. (Foto: iStockphoto)
ILUSTRASI - Kasus ISPA di Kota Tangsel mencapai 124.688 hingga pekan ke-30 2026. Dinkes mengimbau warga waspada terhadap dampak cuaca panas dan musim. (Foto: iStockphoto)

Dinkes Tangsel menjelaskan 124.688 kasus ISPA merupakan data kumulatif hingga minggu ke-30 2026, bukan kasus dalam satu minggu.

Aktual Tangerang – Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan menjelaskan data kasus ISPA dalam Bulletin SKDR. Data tersebut mencatat 124.688 kasus ISPA hingga minggu epidemiologi ke-30 tahun 2026.

Kepala Dinkes Tangsel dr. Allin Hendalin Mahdaniar menegaskan angka tersebut bersifat kumulatif.

“Angka 124.688 itu merupakan jumlah kumulatif kasus ISPA dari minggu epidemiologi pertama sampai minggu ke-30, bukan jumlah kasus yang terjadi dalam satu minggu,” kata Allin, Jumat (14/8/2026).

Khusus minggu epidemiologi ke-30, tercatat sebanyak 4.591 kasus ISPA di Tangerang Selatan. Angka tersebut meningkat dibandingkan minggu sebelumnya yang mencatat 3.832 kasus.

Dengan demikian, terjadi peningkatan kasus sekitar 19,8 persen dalam sepekan.

“Kalau yang dilihat khusus pada minggu epidemiologi ke-30, tercatat 4.591 kasus. Angka ini meningkat dari 3.832 kasus pada minggu sebelumnya atau sekitar 19,8 persen,” ujarnya.

Baca Juga :  Driver Ojol Tewas Ditusuk Saat Tidur, Motor dan Ponsel Raib

Dinkes Jelaskan Perbedaan Data

Allin menjelaskan minggu epidemiologi digunakan dalam surveilans kesehatan untuk memantau penyakit secara konsisten.

Setiap minggu epidemiologi menjadi satu periode pelaporan kasus penyakit.

M-30 menunjukkan kasus yang tercatat khusus pada minggu epidemiologi ke-30. Sementara itu, angka 124.688 merupakan akumulasi kasus sejak minggu pertama hingga minggu ke-30.

“Jadi, total 2026 sampai M-30 dan kasus pada M-30 memiliki makna yang berbeda. Angka kumulatif tidak bisa disamakan dengan jumlah kasus dalam satu minggu,” kata Allin.

SKDR digunakan untuk memantau perkembangan penyakit setiap pekan. Sistem tersebut juga membantu mendeteksi peningkatan kasus yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa.

Data SKDR selanjutnya dianalisis sebagai dasar menentukan langkah kewaspadaan dan respons kesehatan.

ISPA Dipicu Virus dan Bakteri

Allin mengatakan ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit tersebut dapat disebabkan berbagai jenis virus maupun bakteri.

Beberapa virus penyebab ISPA antara lain influenza, rhinovirus, RSV, adenovirus, dan parainfluenza. Coronavirus juga termasuk kelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan.

“ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri. Beberapa di antaranya seperti virus influenza, rhinovirus, RSV, adenovirus, parainfluenza, dan coronavirus,” kata Allin.

Baca Juga :  Waspada! Cairan Narkotika Dijual untuk Semprot Rokok

Sejumlah bakteri juga dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Di antaranya Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae.

Risiko ISPA juga dipengaruhi berbagai faktor lingkungan dan kebiasaan. Paparan asap rokok, debu, polusi udara, serta ventilasi buruk dapat meningkatkan risiko.

Kondisi lingkungan yang padat juga dapat memperbesar potensi penularan.

“Risiko ISPA dapat meningkat akibat paparan asap rokok, debu dan polusi udara, ventilasi yang kurang baik, serta kondisi lingkungan yang padat,” ujarnya.

Gejala ISPA umumnya meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan sakit kepala. Penderita juga dapat mengalami kelelahan dan tubuh terasa lemas.

Dinkes Perkuat Edukasi Masyarakat

Dinkes Tangsel terus memberikan edukasi untuk mencegah penularan ISPA. Edukasi dilakukan melalui puskesmas, program Ngider Sehat, dan media sosial.

“Edukasi dilakukan melalui puskesmas, Ngider Sehat, dan media sosial,” ujar Allin.

Masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Caranya dengan mencuci tangan menggunakan sabun secara rutin.

Masyarakat juga diminta menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Penggunaan masker dianjurkan bagi masyarakat yang sedang mengalami sakit.

“Masyarakat kami imbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit,” kata Allin.

Penderita gejala ISPA juga dianjurkan beristirahat dan membatasi aktivitas di luar rumah. Langkah tersebut bertujuan mengurangi risiko penularan kepada orang lain.

“Masyarakat yang mengalami gejala ISPA, sebaiknya beristirahat dan membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko penularan,” kata Allin.

Masyarakat diminta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala berat. Gejala tersebut antara lain sesak napas, demam tinggi, lemas berat, atau kondisi memburuk.

“Jika mengalami gejala berat seperti sesak napas, demam tinggi atau berkepanjangan, lemas berat, atau kondisi semakin memburuk, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Allin.

Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap bayi, balita, lansia, dan penderita penyakit penyerta. Kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, termasuk pneumonia.

“Perlu ditingkatkan terutama pada bayi dan balita, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta karena kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, termasuk pneumonia,” tuturnya.

Dinkes Tangsel memastikan pemantauan melalui SKDR terus dilakukan secara berkala.

Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan dan respons terhadap penyakit masyarakat. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini