Kota Tangerang Selatan darurat sampah sejak Desember 2025. Ciputat Timur, Ciputat, dan Serpong penyumbang terbesar.
Aktual Tangerang – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menghadapi kondisi darurat sampah akibat peningkatan volume timbulan yang belum tertangani optimal.
Lonjakan sampah terjadi hampir di seluruh kecamatan akibat aktivitas permukiman, perdagangan, dan keterbatasan sarana pengelolaan.
Tiga wilayah tercatat sebagai penyumbang sampah terbesar, yakni Kecamatan Serpong, Ciputat, dan Ciputat Timur.
“Hampir semua wilayah kritis timbulan sampah, tertinggi di Ciputat Timur, Ciputat, dan Serpong,” kata Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie, Rabu (14/1/2026).
Benyamin menyebut kondisi tersebut membutuhkan penanganan serius dan cepat dari seluruh pemangku kepentingan. “Di bawah itu Pamulang, Pondok Aren, dan Serpong Utara,” ujar Benyamin.
Pemerintah Kota Tangsel mendorong optimalisasi pengelolaan melalui Bank Sampah di setiap Rukun Warga.
Upaya tersebut diperkuat bantuan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui penugasan 140 pegawai ke Tangsel.
“Sekarang ada 54 bank sampah, namun aktif hanya 36,” jelas Benyamin.
Ia menargetkan jumlah Bank Sampah aktif terus bertambah sesuai arahan Menteri Lingkungan Hidup.
Pemkot Tangsel menyiapkan pembenahan penanganan sampah jangka pendek, menengah, dan panjang.
Status darurat sampah di Tangsel berlaku sejak 23 Desember 2025. Kondisi tersebut dipicu penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Cipeucang.
Penutupan TPA menyebabkan tumpukan sampah muncul di jalan dan fasilitas umum.








Leave a Reply