Ratusan Anak Direkrut Kelompok Terorisme Melalui Game Online

Adi Subchan - 21 November 2025

Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan ratusan anak direkrut jaringan terorisme lewat game online. Komdigi dan Densus 88 tingkatkan pemantauan digital. (Foto: Dok Kementerian Komdigi)
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan ratusan anak direkrut jaringan terorisme lewat game online. Komdigi dan Densus 88 tingkatkan pemantauan digital. (Foto: Dok Kementerian Komdigi)

Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan ratusan anak direkrut jaringan terorisme lewat game online. Komdigi dan Densus 88 tingkatkan pemantauan digital.

Aktual Tangerang – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyoroti maraknya perekrutan anak oleh jaringan terorisme melalui game online. Ia meminta aktivitas media sosial anak diawasi ketat.

Meutya menegaskan berdasarkan aturan PP TUNAS bahwa anak di bawah 13 tahun dilarang memiliki akun media sosial.

Katanya, Kementerian Komdigi juga berkoordinasi dengan platform digital untuk memastikan kepatuhan aturan.

“Orang tua wajib mendampingi anak saat berselancar di dunia maya,” ujar Meutya, Jumat (21/11/2025).

Ia meminta para orang untuk tua menunda pemberian akses akun sesuai ketentuan PP TUNAS. “Dilarang memberi akses akun kepada anak usia 13 hingga 18 tahun tanpa penilaian risiko,” katanya.

Meutya menyebut Kementerian Komdigi menangani 8.320 konten radikal dan terorisme dalam satu tahun.

“Sebanyak 8.300 konten radikal berasal dari Meta, Google, Tiktok, X, dan Telegram,” jelasnya.

Baca Juga :  Polisi Periksa Keluarga Terduga Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta

Ia menegaskan pemantauan dilakukan bersama Densus 88 dan BNPT.

Densus 88 mencatat kenaikan signifikan jumlah anak terpapar paham teror. Kenaikan terjadi sejak muncul metode perekrutan melalui game online.

Juru bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyebut tren itu mengkhawatirkan.

“Pada 2011-2017 hanya 17 anak yang diamankan,” katanya. “Namun pada 2025, ada sekitar 110 anak yang teridentifikasi terpapar,” lanjutnya.

Ia menjelaskan rekrutmen berlangsung sepenuhnya secara daring. Anak yang terpapar berusia 10 hingga 18 tahun dari 23 provinsi. Korban terbanyak berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Mayndra mengatakan propaganda awal disebarkan melalui platform terbuka. “Visi utopia disebar di Facebook, Instagram, dan game online,” ujarnya.

Menurutnya, narasi itu mudah menarik perhatian anak dan memicu ketertarikan.

Baca Juga :  Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Roy Suryo Dicekal

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini