Proyek Waterway Cisadane Mangkrak

Adi Subchan - 29 April 2026

Proyek transportasi air (waterway) Sungai Cisadane di Tangerang terbengkalai. Dermaga kini beralih fungsi menjadi lokasi pedagang angkringan. (Foto: Dok Pemkot Tangerang)
Proyek transportasi air (waterway) Sungai Cisadane di Tangerang terbengkalai. Dermaga kini beralih fungsi menjadi lokasi pedagang angkringan. (Foto: Dok Pemkot Tangerang)

Proyek transportasi air (waterway) Sungai Cisadane di Tangerang terbengkalai. Dermaga kini beralih fungsi menjadi lokasi pedagang angkringan.

Aktual Tangerang – Proyek transportasi air (wat3rway) di Sungai Cisadane, Kota Tangerang, terbengkalai tanpa kejelasan operasional.

Program ini sebelumnya digagas sebagai solusi alternatif mengurai kemacetan.

Infrastruktur dermaga di kawasan Kalipasir telah selesai dibangun sejak beberapa tahun lalu. Namun hingga kini, belum ada armada kapal yang beroperasi melayani masyarakat.

Pantauan di lokasi menunjukkan dermaga tidak digunakan sesuai fungsi awalnya. Fasilitas publik itu justru dimanfaatkan sebagai area berjualan pada malam hari.

Sejumlah pedagang angkringan terlihat beraktivitas rutin di kawasan dermaga tersebut. Area yang seharusnya menjadi titik naik-turun penumpang berubah fungsi sementara.

Amir, warga setempat, mengatakan dermaga telah lama berdiri tanpa aktivitas transportasi.

“Sejak awal katanya untuk transportasi air mengurangi kemacetan,” ujar Amir.

Baca Juga :  Kemendagri Sebut Kota Tangerang Terbaik Kendalikan Inflasi

Ia menyebut rencana awal jalur air menghubungkan wilayah Bogor hingga Tangerang.

“Katanya bisa jadi transportasi umum dari Bogor ke Tangerang,” katanya.

Namun, rencana tersebut tidak pernah terealisasi hingga saat ini. Warga mengaku belum pernah melihat kapal beroperasi di lokasi itu.

Menurut Amir, kondisi sungai juga mengalami pendangkalan cukup parah. “Pinggiran sungai sempat dikeruk, tapi sekarang jadi daratan lagi,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat dermaga apung tidak lagi berfungsi optimal. Area sekitar kini dikelilingi sedimentasi yang menghambat jalur air.

Warga lain berinisial M menyebut lokasi rutin digunakan untuk aktivitas kuliner malam.

“Setiap malam dipakai jualan angkringan sampai dini hari,” ungkap M.

Ia mengatakan tidak ada penertiban dari pihak berwenang. Pedagang membuka lapak sejak sore hingga menjelang pagi.

M juga menyoroti desain jembatan yang dinilai menyulitkan warga sekitar. Jembatan dibuat melengkung tinggi untuk memberi ruang kapal besar melintas.

Namun hingga kini, kapal besar tidak pernah terlihat melintasi sungai tersebut.

“Jembatan tinggi, pedagang dorong gerobak jadi kesulitan,” katanya.

Menurutnya, kondisi itu justru membebani aktivitas ekonomi warga kecil. Akses harian menjadi lebih berat akibat desain infrastruktur tersebut.

Proyek Waterway sebelumnya masuk dalam RPJMD Kota Tangerang 2018-2023. Program itu menjadi bagian pengembangan transportasi berbasis sungai.

Rencana awal menghubungkan kawasan Serpong hingga pusat Kota Tangerang. Namun proyek tersebut terhenti tanpa kepastian realisasi.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait.

Kemenpar Selidiki Mangkraknya Proyek Waterway Cisadane

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyatakan akan menelusuri mandeknya proyek Waterway di Sungai Cisadane, Kota Tangerang. Program ini digagas sejak 2016 sebagai transportasi alternatif dan penunjang pariwisata.

Proyek tersebut didukung organisasi lingkungan asal Jerman, ICLEI, melalui dana CSR Rp3,4 miliar. Program juga tercantum dalam RPJMD Kota Tangerang 2018–2023.

Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar Hariyanto mengatakan evaluasi akan dilakukan.

“Perlu ditelisik implementasinya dan pihak yang paling berkompeten,” ujar Hariyanto, Senin (13/4/2026).

Baca Juga :  Banten Lama Didorong Jadi Cagar Budaya Nasional

Ia menegaskan, kewenangan utama berada di pemerintah daerah. “Perlu dilihat perencanaan daerah dan tahapan pelaksanaannya,” katanya.

Menurutnya, proyek kemungkinan terhambat faktor prioritas pembangunan. “Bisa jadi masuk tahap jangka pendek, menengah, atau panjang,” jelasnya.

Kemenpar, lanjut dia, hanya berperan dalam koordinasi sektor pariwisata. “Kami tidak masuk ranah penegakan hukum,” tegasnya.

Namun, pihaknya akan mengingatkan melalui forum resmi pemerintah. “Dalam waktu dekat ada rapat koordinasi pariwisata nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Komisi VII DPR RI menyoroti pentingnya infrastruktur pendukung pariwisata. Ketua Tim Kunjungan Kerja, Siti Mukaromah, menekankan penataan Sungai Cisadane.

“Infrastruktur menjadi kunci pengembangan destinasi. Penataan Sungai Cisadane harus dilakukan secara masif,” kata Siti.

Ia menilai koordinasi lintas kementerian sangat diperlukan. “Penataan sungai harus melibatkan berbagai kementerian terkait,” ujarnya.

Diketahui, ICLEI memberikan bantuan sekitar 200 ribu Euro untuk proyek tersebut. Dana itu setara lebih dari Rp3,4 miliar untuk pembangunan sarana waterway.

Sungai Cisadane dan saluran cabangnya direncanakan menjadi jalur utama transportasi air. Proyek ini juga ditujukan untuk mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca.

Kepala Bappeda Kota Tangerang saat itu, Sugiharto Achmad Bagdja, menjelaskan latar belakang program. “Konsep ini diajukan ke ICLEI sejak 2018,” kata Sugiharto.

Ia menyebut perencanaan awal telah dilakukan sejak 2016. “Masih dalam kajian dan realisasinya belum dapat dipastikan,” ujarnya.

Anggaran bantuan digunakan untuk pembangunan berbagai fasilitas pendukung. Fasilitas meliputi dermaga, perahu, marka air, lampu, dan integrasi transportasi darat. ***

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini