Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti PLTU Suralaya di Cilegon yang dinilai berkontribusi terhadap emisi dan polusi udara Jakarta.
Aktual Tangerang – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti PLTU Suralaya di Kota Cilegon, Banten, terkait persoalan polusi udara Jakarta.
Menurut Pramono, PLTU Suralaya menjadi salah satu sumber emisi yang berkontribusi terhadap pencemaran udara di Ibu Kota.
Ia menilai upaya Pemprov DKI mengurangi polusi tidak akan maksimal jika emisi dari wilayah penyangga belum terkendali.
Pernyataan tersebut disampaikan Pramono setelah menghadiri Indonesia International Transport Summit 2026 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
Pramono mengatakan polusi udara Jakarta tidak hanya berasal dari kendaraan bermotor di dalam wilayah ibu kota.
Aktivitas industri dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di sekitar Jakarta juga dinilai berpengaruh.
“Problemnya bukan hanya semata-mata transportasi di Jakarta. Ada persoalan lain, misalnya pembakaran industri-industri di wilayah sekitar Jakarta, salah satunya yang terkenal adalah Suralaya, yang menggunakan bahan bakar yang masih tidak ramah lingkungan,” kata Pramono.
Penggunaan Transportasi Umum Naik
Pramono mengatakan Pemprov DKI terus membenahi sektor transportasi untuk menekan emisi.
Penggunaan transportasi umum di Jakarta disebut terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pramono menyebut penggunaan transportasi umum kini telah mencapai lebih dari 31 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran 23 persen.
Sementara itu, konektivitas transportasi Jakarta disebut telah mencapai 93 persen.
Pemprov DKI juga mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor. Namun, Pramono menilai kebijakan tersebut belum cukup jika emisi dari wilayah sekitar Jakarta tidak dikendalikan.
“Jadi, apa pun yang dilakukan pemerintah di dalam Jakarta dengan membuat mobil listrik, transportasinya diperbaiki, orang yang dulu naik transportasi pribadi ke transportasi umum, menurut saya belum sepenuhnya akan menyelesaikan kalau di suburban area atau daerah yang melingkupi Jakarta ini masih diizinkan untuk industrinya menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara,” ujarnya.
PLTU Suralaya Jadi Sorotan
Pramono kembali menyinggung kawasan Suralaya sebagai salah satu sumber emisi dari wilayah sekitar Jakarta.
Ia menyoroti penggunaan bahan bakar yang dinilai masih tidak ramah lingkungan pada industri di kawasan tersebut.
Menurut Pramono, penanganan polusi udara Jakarta tidak bisa hanya dilakukan berdasarkan batas administrasi. Pasalnya, udara bergerak melintasi wilayah sehingga sumber emisi dari daerah sekitar Jakarta juga perlu dikendalikan.
Karena itu, pengendalian emisi harus melibatkan kawasan penyangga Jakarta dan wilayah aglomerasi.
Pramono Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan
Pramono berharap pemerintah pusat ikut terlibat dalam pengendalian sumber emisi di wilayah sekitar Jakarta. Ia mendorong koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah di kawasan aglomerasi Jakarta.
Koordinasi tersebut diperlukan untuk mengendalikan sumber emisi yang masih tinggi di wilayah penyangga.
“Saya sebagai Gubernur Jakarta berharap bahwa ada juga koordinasi dengan pemerintah pusat agar yang memberikan kontribusi menyebabkan emisi yang masih tinggi itu bisa diatur bersama-sama,” kata Pramono.
Menurut Pramono, Pemprov DKI tidak dapat menyelesaikan persoalan polusi udara secara sendirian.
Pengendalian emisi dari Jakarta harus berjalan bersamaan dengan upaya mengurangi emisi di wilayah penyangga.
Targetkan 10.000 Bus Listrik pada 2030
Di sisi lain, Pemprov DKI terus berupaya mengurangi emisi dari sektor transportasi. Pramono mengatakan Jakarta saat ini telah memiliki sekitar 500 bus elektrik. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 10.000 unit pada 2030.
“Bukan hanya bus elektrik, tapi juga hidrogen dan juga hibrida,” ujar Pramono.
Menurutnya, pengurangan emisi harus dilakukan melalui berbagai langkah secara bersamaan.
Transportasi umum perlu diperkuat dan kendaraan rendah emisi terus diperbanyak. Pada saat yang sama, sumber emisi dari kawasan sekitar Jakarta juga harus dikendalikan.
Dengan begitu, upaya mengurangi polusi udara Jakarta dapat dilakukan secara lebih menyeluruh. (*)








Leave a Reply