Video dua pilot Amerika Serikat (AS) diborgol karena diduga menolak terbangkan pesawat bermuatan senjata ke Israel viral di media sosial.
Aktual Tangerang – Beredar video dua pilot Amerika Serikat (AS) berpakaian militer diborgol. Penyebabnya, mereka menolak menerbangkan pesawat ke Israel yang membawa penuh senjata.
Dalam rekaman itu, pilot perempuan dengan tegas menyebut senjata tersebut akan digunakan untuk “genosida” terhadap warga Palestina.
Ia juga protes terhadap pemerintah AS yang dianggap mendukung pembantaian anak-anak Palestina. Kalimat emosional seperti “stop the boom” diulang beberapa kali, memperlihatkan ketegangan dalam situasi tersebut.
Video itu langsung memicu respons keras warganet. Tuduhan genosida dan keterlibatan Kongres serta Senat AS dalam pendanaan bom ikut menyeruak. Banyak yang menilai rekaman itu sebagai bentuk perlawanan moral terhadap perang di Gaza.
Meski begitu, hingga kini belum ada konfirmasi independen yang membuktikan kebenaran klaim tersebut. Militer AS juga belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai dugaan pengiriman senjata maupun penolakan dua pilot tersebut.
Baca juga:
-
PBB: Israel Lakukan Genosida Terhadap Warga Palestina di Gaza
-
Video Pilot AS Tolak Terbangkan Pesawat ke Israel
Isu ini muncul di tengah konflik berkepanjangan Israel-Palestina yang sarat tuduhan pelanggaran HAM dan serangan terhadap warga sipil.
Video viral itu memicu perdebatan global mengenai etika perang, tanggung jawab negara besar, serta peran media sosial dalam membentuk opini publik.
Sejumlah pihak mendesak adanya investigasi lebih lanjut. Sebagian menilai video itu bisa jadi propaganda atau distorsi informasi, sementara yang lain melihatnya sebagai simbol keberanian jika benar dilakukan oleh pilot aktif.
Hingga kini, publik internasional masih menanti klarifikasi resmi dari otoritas terkait untuk memastikan fakta di balik video yang menghebohkan tersebut.
Israel Gempur Gaza, 60 Warga Palestina Tewas
Militer Israel kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Kota Gaza dan Jalur Gaza, Sabtu (20/9/2025). Serangan itu menghantam terowongan bawah tanah dan struktur jebakan, menewaskan sedikitnya 60 warga Palestina.
Dilansir Reuters, Minggu (21/9), serangan ini terjadi menjelang langkah 10 negara, termasuk Australia, Belgia, Inggris, dan Kanada, yang akan secara resmi mengakui negara Palestina merdeka, Senin besok, bertepatan dengan pertemuan tahunan Majelis Umum PBB.

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel meningkatkan operasi militernya dengan menargetkan gedung-gedung tinggi di Kota Gaza serta melancarkan serangan darat. Pasukan Israel kini menguasai pinggiran timur Kota Gaza dan menggempur wilayah Sheikh Radwan serta Tel Al-Hawa sebagai titik masuk menuju bagian tengah dan barat kota.
Militer Israel mengklaim telah menghancurkan hingga 20 blok menara di Kota Gaza selama dua minggu terakhir. Media Israel menyebut lebih dari 500.000 orang meninggalkan kota itu sejak awal September. Namun, Hamas membantah klaim tersebut, menyebut hanya sekitar 300.000 orang yang keluar, sementara 900.000 lainnya masih bertahan, termasuk sandera Israel.
Sayap militer Hamas di Telegram bahkan merilis gambar montase para sandera Israel dengan peringatan bahwa nyawa mereka terancam akibat operasi militer yang berlangsung. Hamas juga melaporkan, sejak 11 Agustus, lebih dari 1.800 bangunan tempat tinggal dan 13.000 tenda pengungsi di Kota Gaza telah hancur.
Hampir dua tahun pertempuran, otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 65.000 warga Palestina tewas akibat serangan Israel. Konflik berkepanjangan itu juga memicu kelaparan, menghancurkan infrastruktur, dan memaksa sebagian besar penduduk mengungsi berulang kali.









Leave a Reply