Pemkab Tangerang Tetapkan Darurat Kebakaran TPA Jatiwaringin

Adi Subchan - 01 July 2026

Pemkab Tangerang menetapkan status tanggap darurat kebakaran TPA Jatiwaringin. BNPB mengerahkan dua helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman. (Foto: BPBD Kabupaten Tangerang)
Pemkab Tangerang menetapkan status tanggap darurat kebakaran TPA Jatiwaringin. BNPB mengerahkan dua helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman. (Foto: BPBD Kabupaten Tangerang)

Pemkab Tangerang menetapkan status tanggap darurat kebakaran TPA Jatiwaringin. BNPB mengerahkan dua helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman.

Aktual Tangerang – Pemkab Tangerang menetapkan status tanggap darurat kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Banten. Langkah ini diambil untuk mempercepat penanganan kebakaran yang terus meluas dan mengancam kesehatan warga sekitar.

Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, mengatakan status penanggulangan dinaikkan dari siaga menjadi tanggap darurat. Keputusan itu diambil setelah rapat evaluasi bersama BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta instansi terkait.

“Kita tetapkan bahwa ini sudah masuk kategori darurat. Karena ini menyangkut masalah kesehatan masyarakat, menyangkut juga risiko daripada api yang terus menjalar,” kata Moch Maesyal Rasyid, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, pemerintah daerah telah menerbitkan surat keputusan bupati sebagai dasar pelaksanaan penanganan darurat di lapangan.

Ia menjelaskan, kebakaran tidak hanya mengancam area TPA. Asap tebal juga telah menyebar ke permukiman warga sehingga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

“Ini menjadi pertimbangan karena dampak pastinya ada asap. Asap ini terbawa oleh angin dan dekat sekali ke pemukiman,” ujarnya.

Baca Juga :  Kota Tangerang Jadi Wilayah Paling Rawan Pencurian di Jabodetabek

Peningkatan status tersebut juga mempertimbangkan sejumlah indikator. Di antaranya, meluasnya area kebakaran, bertambahnya titik api, prakiraan musim kemarau, keterbatasan personel, dan besarnya dampak kejadian.

Pemerintah daerah juga meminta dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bantuan udara dinilai diperlukan karena sebagian titik api sulit dijangkau kendaraan pemadam.

“Dengan situasi ini, rencananya helikopter BNPB akan membantu untuk penyiraman api dari atas. Karena ada lokasi yang tidak bisa dimasuki oleh kendaraan,” katanya.

Ia berharap seluruh pihak terlibat dalam percepatan pemadaman. Langkah itu juga penting untuk mengurangi dampak kesehatan akibat asap kebakaran.

“Kami minta bantuannya kepada semua pihak, untuk tangani persoalan ini agar segera mematikan api ini, termasuk juga untuk upaya-upaya mencegah kepada kesehatan masyarakat,” ujar Maesyal.

Sementara itu, Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB terus memantau perkembangan kebakaran hingga Rabu pagi. Kebakaran dinilai masih berpotensi meluas apabila tidak segera dikendalikan.

Kepala BNPB, Suharyanto, menginstruksikan jajarannya segera menuju lokasi. Tim diminta melakukan asesmen lanjutan, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dan memperkuat operasi pemadaman.

Hasil asesmen sementara menunjukkan proses pemadaman menghadapi kendala. Material yang terbakar didominasi sampah dan bahan mudah terbakar.

Baca Juga :  Kejari Ungkap Modus Dugaan Korupsi di PKBM Kabupaten Tangerang

Titik api juga berada di tumpukan sampah yang tinggi. Kondisi itu membuat petugas kesulitan menjangkau sumber api. Selain itu, angin kencang dan cuaca panas mempercepat penyebaran api ke berbagai arah.

Untuk mempercepat pengendalian, BNPB mengerahkan dua helikopter pengebom air. Opsi operasi modifikasi cuaca juga disiapkan apabila diperlukan.

“Kita datangkan dua helikopter water bombing dan jika diperlukan lakukan operasi modifikasi cuaca,” kata Suharyanto.

Di darat, sebanyak 10 unit mobil pemadam kebakaran dari berbagai instansi terus dikerahkan. Petugas memfokuskan pemadaman pada area yang masih dapat dijangkau guna menahan laju penyebaran api.

Hingga Rabu, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 15 hektare.

Dampak kebakaran mulai dirasakan warga sekitar. Sebanyak 30 kepala keluarga atau 52 jiwa mengungsi ke Balai Desa Tanjakan Mekar akibat terdampak asap kebakaran. (*)

Tag Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Terkini