Kemenag memediasi penyegelan rumah doa POUK Tesalonika di Teluknaga. Segel dicabut, pemda siapkan pembangunan gereja.
Aktual Tangerang – Penyegelan rumah doa jemaat POUK Tesalonika di Teluknaga memicu polemik publik. Peristiwa itu viral di media sosial setelah video beredar luas.
Rumah doa tersebut berada di Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Kementerian Agama (Kemenag) turun tangan menyelesaikan konflik tersebut.
Mediasi dipimpin Staf Khusus Menteri Agama, Gugun Gumilar. Pertemuan melibatkan pemerintah daerah, tokoh agama, dan perwakilan masyarakat.
Hadir juga Camat Teluknaga, Satpol PP, hingga pengurus yayasan dan jemaat.
Gugun menegaskan pentingnya menjaga toleransi dan kebebasan beragama.
“Saya turun langsung untuk memediasi dan mencari solusi terbaik,” ujar Gugun, Senin (6/4/2026).
Ia menyebut kehadiran negara penting dalam merespons persoalan masyarakat.
“Alhamdulillah, persoalan ini dapat diselesaikan melalui komunikasi bersama,” katanya.
Hasil musyawarah menghasilkan sejumlah kesepakatan antara para pihak. Segel rumah doa dan yayasan telah resmi dicabut.
Pemerintah daerah akan menyiapkan lahan pembangunan gereja baru. Proses perizinan bangunan akan difasilitasi oleh pemerintah daerah.
Papan nama rumah doa juga telah dipasang kembali. Seluruh kesepakatan dituangkan dalam dokumen yang ditandatangani bersama.
Sementara, perubahan kesepakatan akan diselesaikan melalui musyawarah.
Gugun menegaskan Indonesia berdiri di atas nilai Pancasila. “Tidak boleh ada kelompok merasa lebih berhak dalam beribadah,” ujarnya.
Ia menekankan kebebasan beragama dijamin oleh konstitusi. “Intoleransi dan persekusi tidak bisa dibenarkan,” tegas Gugun.
Ia mengajak masyarakat menjaga kerukunan di tengah keberagaman. “Kita harus hidup damai dan saling menghormati perbedaan,” katanya.
Ia memastikan Kemenag hadir melayani seluruh masyarakat tanpa diskriminasi.
Sebelumnya, penyegelan terjadi usai ibadah Jumat Agung pada Jumat (/6/4/2026). Video menunjukkan massa dan Satpol PP memasang plang segel di lokasi. Sejumlah warga meminta aktivitas ibadah dihentikan sementara.
Bupati Tangerang, Mochamad Maesyal Rasyid, turut merespons polemik tersebut. “Pemerintah tidak membeda-bedakan agama,” ujar Maesyal.
Ia memastikan seluruh warga dapat beribadah dengan aman dan nyaman.
Kabupaten Tangerang disebutnya menjunjung tinggi nilai toleransi. ***








Leave a Reply